Wednesday, 16 December 2015

Makalah Biosfer

BAB I PENDAHULUAN A.    Latar Belakang             Ilmu Pengetahuan Alam merupakan suatu ilmu yang sangat penting untuk dipelajari... thumbnail 1 summary
BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

            Ilmu Pengetahuan Alam merupakan suatu ilmu yang sangat penting untuk dipelajari. Berbagai hal tentang seluk beluk kehidupan makhluk hidup di dunia ini dibahas di dalamnya. Di antaranya membahas tentang individu, ekosistem, populasi, habitat, komunitas, bioma, dan biosfer.  Semuanya itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini peranan manusia sangat penting untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan dan ketidakseimbangan alam ini.  Karena dampak kerusakan terhadap kehidupan sangat merugikan aktivitas organisme.

            Untuk menjaga keseimbangan alam dan menghindari dampak kerusakan terhadap kehidupan maka perlu dipelajari pengetahuan tentang biosfer.

B.     Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang di atas maka masalah dalam makalah ini dapat dirumuskan seperti berikut:

1.      Apa yang dimaksud biosfer ?

2.      Bagaimana hubungan individu, ekosistem, populasi, habitat, komunitas, bioma, dan biosfer dalam alam ini?

3.      Bagaimana peranan manusia dalam biosfer?

C.    Tujuan

1.      Memberikan pengetahuan tentang biosfer dan komponennya.

2.      Memberikan pengetahuan tentang hubungan individu, ekosistem, populasi, habitat, komunitas,   bioma, dan biosfer.

3.      Memberikan pengetahuan tentang peranan manusia di dalam biosfer.

D.    Manfaat

1.      Dapat mengetahui tentang biosfer dan komponennya.

2.      Dapat mengetahui hubungan individu, ekosistem, populasi, habitat, komunitas, bioma, dan biosfer.

3.      Dapat mengetahui peranan manusia dalam biosfer.

A.            Pengertian Biosfer

Biosfer merupakan kajian tentang kehidupan hewan dan tumbuhan di muka bumi. Dalam pembagiannya, biosfer termasuk dalam geografi fisik. Selain kehidupan manusia, hewan, dan tumbuha, di bagian permukaan kulit bumi juga terdapat daratan, lautan dan udara di atasnya. Oleh karena itu, biosfer tidak dapat lepas dari litosfer, hidrosfer, dan atmosfer.

Secara etimologis, biosfer berasal dari kata bios yang artinya hidup dan sphere yang artinya lapisan. Jadi, biosfer adalah lapisan hidup atau lapisan tempat hidup makhluk hidup/organisme. Biosfer meliputi lapisan hidrosfer, litosfer dan atmosfer. Interaksi ketiga lapisan ini saling mempengaruhi satu sama lain sehingga membentuk lapisan yang merupakan tempat kehidupan di bumi ini. Pada dasarnya, setiap jenis makhluk hidup telah mempunyai tempat tersendiri di biosfer. Hal ii dimaksudkan agar mereka dapat bertahan hidup sesuai dengan cara hidup masing-masing.

B.            Organisasi Biosfer

Makhluk hidup atau organisme memiliki tingkat organisasi yang berkisardari tingkat yang paling sederhana (protoplasma) ke tingkat organisasiyang paling kompleks (biosfer). Berikut tingkat organisasi dari tingkat yang paling sederhana :

• Individu       

Merupakan organisme tunggal  dan berada pada tingkatan organisme makhluk hidup terendah. Contohnya : seekor tikus, seekor kucing, satu pohon jambu, satu pohon kelapa, dan seorng manusia.

• Popolusi

Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang berada pada suatu daerah yang sama dan dalam waktu tertentu. Misalya : sekumpulan kucing yang sedang bermain ,sekumpulan sapi yang sedang merumput, sekumpulan bebek yang sedang berjalan, dan sekumpulan pohon jati dihutan.

• Komunitas

Komunitas adalah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah yang tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Misalnya :  komunitas sawah, komunitas kolam, dan komunitas rumput.


• Ekosistem                               

Komunitas adalah komponen dari berbagai komunitas yang saling berinteraksi dengan lingkungan abiotiknya. Contohnya : ekosistem air tawar, ekosistem pantai, dan ekosistem sawah.

     Macam-macam ekosistem :

Setiap ekosistem memiliki spesies dominan ekosistem bukan pantai, dengan ekosistem hutan pegunungan. Ekosistem hutan pantai didominasi oleh tumbuhan bakau, sedangkan hutan pegunungan didominasi oleh tumbuhan cemara dan pinus. Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi 3 tipe yaitu:

1)         Ekosistem darat

adalah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan.Ekosistem darat dilihat dari tumbuhan dpoinan tersebut dinamakan vegetasi.Berdasarkan vegetasi pembuntuknya vegetasi ekosistem darat terbagi atas

a.           Ekosistem dataran rendah atau vegetasi pamah

Ekosistem ini berada pada ketinggian 0 -100 meter diatas permukaan laut. Vegetesi yang terdapat pada ekosistem ini terdiri atas vegetasi rawa dan vegetasi darat.

b.                        Ekosistem dataran tinggi (Vegetasi pegunungan)

Ekosistem ini bermacam-macam, tergantung pada ketinggiannya. Ekosistem ini dibedakan menjadi  vegetasi hutan pegunungan, vegetasi padang rumput pegunungan, vegetasi terbuka lereng berbatu, vegetasi rawa gambut, vegetasi danau, vegetasi alpin.

c.       Ekosistem vegetasi monsum

Vegetasi ini banyak dijumpai didaerah beriklim kering yang memiliki curah hujan sedikit. Daerahnya terletak pada ketinggian  0-800 meter dari permukaan laut. Ciri-ciri hutan monsum adalah pohon-pohonnya rendah, banyak cabang, dan cabangnya tidak lurus.

2)         Ekosistem air

Adalah ekosistem yang lingkungan fisiknya didominasi oleh air. Berdasarkan kandungan garamnya ekosistem air dibedakan menjadi ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.

a.) Ekosistem air tawar

Ciri-ciri:

1. Salinitas atau kadar garam rendah

2. Variasi suhu antara siang dan malam tidak terlalu besar

3. Penetrasi (masuknya) cahaya matahari terbatas atau kurang

4. Dipengaruhi oleh iklim dan cuaca

5. Tumbuhan didominasi oleh jenis gangguan dan beberapa tumbuha  biji

~ Ekosistem air tawar dibedakan menjadi:

-          Ekosistem air tenang, disebutjuga ekosistem lentik, contihnya danau, telaga, dan rawa.

-   Ekosistem air mangalir, disebut juga ekosistem lotik, contohnya selokan dan               sungai.

b.)  Ekosistem laut

Ciri-ciri :

1.      Salinitas tinggi, mencapai 55%

2.      Terdapat kehidupan disemua kedalaman, kecuali didasar laut sangat dalam.

3.      Ekosistem laut saling bersambungan dan bercampur karena adanya sirkulasi air laut.

4.      Rantai makanan relatif panjang dan kompleks.

~ Ekosistem laut dibadakan atas:

1.      Laut

Laut memiliki perbedaan suhu yang tinggi antara bagian atas dan bagian bawah. Berdasarkan itensitas cahaya matahari yang dapat mencapainya, ekosistem laut dibedakkan menjadi laut dangkal dan laut dalam.

2.      Pantai

Pantailetaknya berbatasan dengan darat, laut, dan daerah pasang surut. Organisme didaerah ini telah beradaptasi dengan hempasan air pasang, seperti ganggang, porifera, animon laut, rumput laut, remis dan kerang, mollusca, landak laut, bintang laut, serta ikan-ikan kecil

3.      Estuari

Estuari atau muara merupakan tempat bertemunya sungai dan laut. Salinitas air berupa secara bertahap mulai dari daerah air tawar, ke laut. Nutrien dari sungai memperkaya estuari. Organisme yang hidup di estuari antra lain: rumput rawa, ganggang, fitoplankton, cacing, kerang, kepiting, dan ikan.

• Habitat

            adalah tempat berkumpulnya ekosistem.



C.            Faktor Penghalang Persebaran Organisme

Persebaran organisme di muka bumi ini banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor penghalang geografi, reproduksi dan endemis.

1.      Penghalang Geografi

Adalah keadaan fisik lapangan dan faktor geografi lain yang menghalangi aliran gen antar populasi. Penghalang geografi merupakan penghalang dalam bentuk kondisi muka bumi, seperti gunung, padang asir, dan laut. Penghalang jenis ini sangat menentukan persebaran organisme di muka bumi. Hasil proses alami ini berupa benua yang dibatasi oleh lautan, gunung, gurun, dan faktor alam lainnya. Adanya batas-batas tersebut menghalangi interaksi antarorganisme.

2.      Penghalang Reproduksi

Merupakan penghalang dalam bentuk tidak terjadinya interhibridasi (perkawinan) diantara organisme yang menghuni satu daerah biogeografi dengan daerah biogeografi lainnya. Dengan demikian, penghalang geografi ini menyebabkan munculnya penghalang reproduksi. Penghalang reproduksi ini yang menyebabkan terjadinya isolasi reproduksi yang mengakibatkan semakin berbedanya organisme tersebut dengan organisme asalnya.

3.      Penghalang Endemis

Merupakan penghalang dalam bentuk kekhasan organisme akibat menghuni daerah khas pula. Kekhasan ini terjadi akibat adanya penghalang reproduksi yang mencegah terjadiya interhibridasi dengan organisme lain di luar wilayah biogeografi tersebut. Dengan demikian, penghalang endemis ini menyebabkan proses endemisme organisme yang mengakibatkan semakin khasnya organisme tersebut dan semakin berbeda jauh dengan organisme asalnya.

D.            Persebaran Flora di Permukaan Bumi

Indonesia sebagai negara kepulauan kaya dengan keanekaragaman tumbuh-tumbuhan. Adanya bermacam-macam tumbuhan di suatu tempat dipengaruhi oleh faktor tanah, relief permukaan bumi, iklim, dan air.

1.    Faktor-Faktor Penyebab Persebaran Flora di Bumi :

a.       Tanah

Tanah disuatu tempat mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar jenis tanah di Indonesia adalah tanah humus dan vulkanik. Tanah tersebut sangat subur untuk pertumbuhan tanaman.

b.      Relief Permukaan Bumi

Relief adalah kedaan tinggi rendahnya permukaan bumi. Tinggi rendah permukaan bumi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman yang berkaitan dengan suhu  (panas, sejuk, sedang, dan dingin). Tanaman akan tumbuh baik pada suhu dan ketinggian yang sesuai. Pembagian ketinggian tempat dan jenis tanaman yang sesuai meliputi sebagai berikut :

   • Daerah dataran rendah (ketinggian 0-650 meter) dikembangkan untuk tanaman   budidaya berupa padi, tembakau, karet, kelapa, dan tebu.

• Daerah pegunungan rendah (ketinggian 650-1,500 meter) dikembangkan untuk   perkebunan teh, sayur-sayuran dan buah-buahan.

• Daerahpegunungan tinggi (ketinggian 1.500-2.500 meter) dikembangkan untuk   tanaman pinus.

• Daerah zona dingin (ketinggian lebih dari 2.500 meter) tidak ada tanaman   budidaya, yang ada hanya lumut.

c.       Iklim

Faktor iklim sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Faktor-faktor tersebut, antara lain sebagai berikut :

1.)    Suhu atau temperatur, yaitu tingkat panas dan dinginnya daerah tertentu dan waktu tertentu.

2.)    Intensitas sinar matahari, yaitu banyak sedikitnya sinar matahari yang sampai di permukaan bumi.

3.)    Kelembapan udara, yaitu banyaknya uap air yang dikandung dalam udara.

4.)    Angin, yaitu udara yang bergerak dari daerah yang bertekanan maksimum ke daerah yang bertekanan minimum.

d.      Air

Pertumbuhan berbagai tanaman juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kandungan air yang tersedia. Tanaman dapat dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan kebutuhan air yang dibutuhkan, yaitu sebagai berikut :

1.)    Tumbuh-tumbuhan yang hidup didaerah kering (xerofita), misalnya : kaktus

2.)    Tumbuh-tumbuhan yang hidup didaerah basah (hidrofita), misalnya : eceng gondok dan teratai.

3.)    Tumbuh-tumbuhan yang hidup didaerah yang kandunagn airnya sedang, misalnya : tebu, padi, jagung.

2.      Tipe-Tipe Komunitas Organisme Flora dan Fauna

           Komunitas organisme flora di dunia dapat di bagi menjadi delapan macam, yaitu hutan basah, hutan musim tropika, hutan gugur, hutan hujan iklim sedang, taiga, padang rumput, tundra, dan gurun.

a.       Hutan Basah / Hutan Hujan Tropika

Hutan basah terdapat banyak sekali tumbuhan. Dan selalu mendapat air sepanjang tahun dan keadaan alamnya memungkinkan terjadinya pertumbuhan yang lama sehingga komuitas hutan sangat kompleks. Hutan ini terdapat di daerah tropis dan subtropis, seperti Indonesia, Australia bagian utara, Afrika Tengah, dan Amerika Tengah. Tumbuhan yang khas daerah ini yaitu liana dan epifit.

b.      Hutan Musim Tropika

Jenis hutan yang yang berada pada daerah tropika (tropis) yang mempunyai iklim basah, namun musim kemaraunya panjang. Datangnya musim kemarau dicirikan dengan pohon-pohon yang merontokkan daun-daunnya. Hal tersebut berfungsi untuk mengurangi tingkat penguapannya. Hutan musim tropika banyak ditemukan di India, Pakistan, dan Bangladesh.

c.       Hutan Gugur

Banyak terdapat di kawasan yang mempunyai empat musim, antara lain Amerika Utara, Eropa, Cina, Jepang, dan sebagian Australia. Ciri khas hutan gugur adalah menggugurkan daun pada musim gugur dan menghijau sepanjang musim panas. Pohon yang terdapat di hutan gugur yaitu : maple, oak, beck dan elm.

d.      Hutan Hujan Iklim Sedang (Temperate Rain Forest)

Berupa hutan dengan pepohonan yang memiliki ketinggian yang sangat tinggi. Jenis tumbuhan pada hutan ini lebih sedikit dibandingkan jenis tumbuhan pada hutan hujan tropika.

e.       Taiga

Adalah hutan berdaun jarum yang terdapat di daerah tropis sampai kutub. Perbedaan suhu antara musim panas dengan musim dingin sangat tinggi. Taiga banyak terdapat di Siberia, Kanada, Skandinavia, Rusia dan Alaska. Tumbuhan yang hidup di taiga adalah tumbuhan berdaun jarum, seperti : konifer, spruce, cemara dan pinus.

f.       Padang Rumput

Padang rumpu tumbuh didaerah tropis sampai subtropis. Flora yang hidup di padang rumput adalah rumput-rumputan yang telah teradaptasi dengan kondisi lingkungan yang mempunyai porositas dan drainase rendah.

  Padang rumput dibedakan menjadi dua jenis yaitu :

1.          Stepa adalah padang rumput yang kering dan tidak ditumbuhi oleh        semak-semak.

2.        Sabana adalah padang rumput yang kering dan ditumbuhi semak-semak. Sabana terdapat di suatu daerah peralihan antara padang rumput dan hutan. Sabana di Indonesia terdapat di Nusa Tenggara Timur dan Papua bagian tenggara.

g.       Tundra

Merupakan padang lumut yang terdapat di daerah kutub sehingga iklimnya pun iklim kutub. Musim dinginnya sangat panjang, yakni selama sembilan bulan dan musim panasnya selama tiga bulan.

h.      Gurun

Terletak di daerah tropis dengan curah hujan yang sangat rendah, yaitu sekitar 25 cm per tahun dan turunnya tidak merata. Perbedaan suhu siang dan malam sangat mencolok. Tanahnya sangat gersang dan tandus sehingga tidak mampu menyimpan air. Flora yang hidup di gurun adalah tumbuhan menahun dan tumbuhan semusim yang sifatnya xerofita, yaitu tumbuhan yang telah terkondisi dengan lingkungan kering dan tandus.

E.     Persebaran fauna di Indonesia

            Indonesia terletak diantara dua kawasan persebaran fauna dunia, yaitu kawasan Oriental di bagian utara dan kawasan Australia di bagian selatan. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia memiliki sebagian kekayaan hayati Asia dan Australia. Jenis fauna di Indonesia sangat banyak dan kehidupannya sangat dipengaruhi keadaan tumbuh-tumbuhan dan iklim daerahnya. Indonesia berada di daerah tropis yang merupakan salah satu sasaran migrasi satwadari belahan bumi utara dan selatan. Akibatnya, Indonesia mendapatkan kekayaan hayati tambahan dari pelaku migrasi satwa. Dengan kondisi yang demikian maka kita perlu dijaga kelestarian seluruh jenis hayati yang ada. Hal ini membutuhkan perhatian dan biaya yang cukup besar. Karena hal itu, pelestarian hayati tidak berlaku untuk seluruh jenis yang ada, namun diprioritaskan jenis yang rawan punah dan jenis akibat aktivitas manusia menjadi rawan punah atau langka.

          

Kehidupan berbagai binatang di dalam hutan tidak lepas dari kondisi lingkungan hutan. Apabila hutan rusak, kehidupan berbagai bintang akan terancam kelestariannya. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan kesadaran perlindungan pada fauna Indonesia yang terancam kepunahan.

1.     Pembagian Fauna menurut Wallace (1910)

            Wallace membuat sebuah hipotesa bahwa kekhasan hewan di pulau Sulawesi yang diperkirakan pernah bersatu dengan benua Asia dan Australia. Menurut Wallace, Sulawesi merupakan daerah peralihan antara fauna Asia dan australia.

            Wallace kemudian memberi garis batas yang dikenal dengan garis Wallace. Garis ii ditarik dari sebelah Filipina-Selat Makassar-Bali dan Lombok(Selat Lombok).

            Wallace membagi fauna Indonesia menjadi tiga sebagai berikut:

a.      Daerah Fauna Indonesia Bagian Barat

Hewan di kawasan Indonesia bagian Barat berasal dari kawasan Oriental. Hewan-hewan yang ada dikawasan ini mirip dengan hewan dikawasan Asia. Jenis hewan yang ada, antara lain:

1.      Harimau di Jawa, Sumatera, Madura dan Bali

2.      Beruang di Sumatera dan Kalimantan

3.      Gajah di Sumatera

4.      Badak di Sumatera dan Jawa

5.      Tapir di Sumateradan Kalimantan

6.      Banteng di Jawa dan Kalimantan

7.      Siamang di Sumatera

8.      Kera Gibbon di Sumatera dan Kalimantan


b.      Daerah Fauna Indonesia Bagian Timur

Papua dan pulau-pulau kecil disekitarnya termasuk daerah Indonesia bagian Timur.

Hewan-hewan di kawasan Indonesia bagian Timur mirip dengan hewan di kawasan Australia. Jenis hewan yang ada, antara lain

1.      Kangguru di Papua

2.      Kasuari di pulau Seram dan Papua

3.      Cenderwasih di Papua dan Kepulauan Aru

4.      Kakatua di Maluku

c.       Daerah Fauna Indonesia Bagian Tengah

Hewan-hewan di Kawasan Indonesia bagian Tengah merupakan campuran antara fauna Indonesia bagian Barat dan Timur. Jenis hewan di kawasan ini antara lain

1.    Komodo di Nusa Tenggara Timur

2.    Anoa di Sulawesi

3.    Babi Rusa (sejenis babi yang memiliki taring panjang dan melengkung) di   Sulawesi dan Maluku bagian Utara

4.    Burung Maleo di Sulawesi dan Kepulauan Sangihe

5.    Kuskus di sulawesi

2.     Pembagian fauna menurut Weber

Weber menggunakan hewa mamalia dan aves(burung) sebagai dasar patokan analisisnya. Namun, tidak setiap binatang yang dijadikan dasar itu memiliki garis  pembatas yang sama. Misalnya kupu-kupu serta hewan melata Asia mepunyai penyebaran yang lebih luas daripada jenis burung dan siput.

Garis Weber adalah garis hipotesa yang merupakan pembatas antara fauna-fauna di kawasan Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

 

          Menurut Alfred Russel Wallace, di permukaan bumi in terdapat enam kawasan persebaran fauna, yaitu kawasan Neartik, Neotropik, Australia, Oriental, Paleartik dan Ethiopia.

1.      Kawasan Neartik

            Meliputi Amerika Utara mulai dari Meksiko, Amerika Serikat, Kanada, sampai kepulauan Greenland. Jenis fauna yang terdapat dikawasan ini adalah tikus air, kambing gunung, anjing prairi, bison, raun dan kalkun.

2.      Kawasan Neotropik

    Meliputi wilayah Amerika Selatan. Spesies khas yang hidup di kawasan ini adalah kera dengan ekor yang dapat memegang (prehensile), kukang, tapir, dan trenggiling.

3.      Kawasan Australia

    Meliputi Australia dan sekitarnya, seperti Tasmania, Papua Nugini, Selandia Baru, dan pulau-pulau di lautan pasifik. Jenis heawan yang hidup di kawasan ini adalah platypus (mamalia berparuh bebek), kanguru, dan koala. Jenis burung dikawasan ini antara lain burung kasuari, kakatua dan cendrawasih.

Kerusakan Flora dan Fauna oleh Manusia

Berikut ini beberapa hal yang menyebabkan kerusakan flora dan fauna akibat kegiatan manusia.

a. Pencemaran

Pencemaran lingkungan adalah faktor yang sangat berperan dalam penciptaan kerusakan flora dan fauna. Zat-zat polutan telah banyak membunuh flora dan fauna di darat maupun di perairan. Kini, zat-zat itu semakin menyesaki Bumi akibat kemajuan teknologi. Di satu sisi, teknologi memang kita butuhkan tetapi di sisi lain telah menyebabkan pencemaran yang sangat membahayakan kehidupan. Hasil dan sisa-sisa kemajuan teknologi itu kini telah meracuni tanah, air, serta udara. Jadi, teknologi hendaknya diciptakan sedemikian rupa sehingga tetap ramah terhadap lingkungan. Kita biasa membedakan pencemaran menjadi tiga macam, yaitu pencemaran udara, air, dan tanah. Pembedaan seperti itu tidaklah tepat benar karena ketiganya saling berkaitan. Asap pabrik dan kendaraan bermotor melepaskan karbon monoksida ke udara. Terjadilah pencemaran udara. Udara yang tercemar itu naik bercampur dengan uap air, terkondensasi, dan turun sebagai hujan. Air hujan yang telah tercemar karbon monoksida itu bersifat asam sehingga sering disebut hujan asam. Hujan asam ini jika mengenai tanaman atau hewan secara langsung dapat memperlambat pertumbuhannya dan bahkan membunuhnya. Air hujan yang asam itu juga memasuki air permukaan seperti sungai atau danau dan meracuni tumbuhan serta hewan-hewan air. Sebagian hujan asam itu meresap ke tanah dan meracuni tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan dan hewan itu jika masih hidup akan menyimpan racun dalam tubuhnya. Pencemaran air pada akhirnya juga menyebabkan pencemaran udara dan tanah. Zat-zat polutan dalam air yang tercemar akan terurai dan bercampur dengan udara ketika berlangsung proses penguapan. Sebagian air yang tercemar juga memasuki tanah sehingga tanah pun ikut tercemar. Tindakan sederhana apakah yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi pencemaran? Nah, lakukanlah mulai dari dirimu sendiri!

Pencemaran tanah pun akhirnya juga menyebabkan pencemaran air dan udara. Zat-zat polutan yang ada di dalam tanah dapat menguap ke udara, menimbulkan bau yang tidak sedap dan menyesakkan pernapasan. Sebagian zat polutan itu juga memasuki air tanah dan mengisi air sumur, sungai, serta danau.

b. Eksploitasi Hutan

Pengambilan hasil hutan secara besar-besaran, cepat atau lambat akan memusnahkan flora dan fauna tertentu di permukaan Bumi. Beberapa flora memiliki pertumbuhan yang sangat lambat misalnya jati, sehingga untuk memperbaruinya diperlukan waktu yang sangat lama. Ada juga flora yang hanya tumbuh pada waktu tertentu misalnya bunga Rafflesia arnoldi.

c. Perburuan Liar

Beberapa fauna mempunyai daya tarik tersendiri sehingga mempunyai nilai ekonomis. Inilah yang menyebabkan beberapa fauna diburu oleh manusia. Badak diburu oleh manusia karena diyakini culanya yang berkhasiat sebagai obat. Gajah diburu manusia karena gadingnya dapat digunakan sebagai hiasan dan peralatan dengan harga mahal. Cenderawasih diburu karena bulunya yang indah. Dan beberapa fauna lagi diburu karena alasan tertentu. Inilah yang menyebabkan beberapa fauna berada diambang kepunahan. Bagaimanakah upaya yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya perburuan liar?

d. Penggunaan Pestisida

Dalam pertanian penggunaan pestisida dimaksudkan untuk membunuh hewan perusak tanaman. Secara tidak sengaja, pestisida itu juga membunuh hewan yang menguntungkan. Beberapa burung telah mati akibat penggunaan pestisida. Burung-burung yang tahan terhadap pestisida akan mengalami gangguan reproduksi. Berdasarkan penelitian, pestisida berpengaruh terhadap pembentukan kalsium dalam tubuh burung. Akibatnya, burung menghasilkan telur yang kulitnya sangat tipis sehingga bayi burung tidak dapat bertahan hidup. Langkanya elang jawa diduga kuat juga karena penggunaan pestisida ini.

e. Penggunaan Pupuk Buatan

Di satu sisi, pupuk buatan berfungsi menyuburkan tanaman. Namun, di sisi lain pupuk telah berperanbesar terhadap kelangkaan beberapa jenis fauna. Berdasarkan penelitian, para ahli menyimpulkanbahwa penggunaan pupuk telah menyebabkan hilangnya beberapa jenis ikan di sungai dan danau. Bagaimana ini bisa terjadi? Pupuk yang disebarkan di lahan pertanian tidak semuanya diserap oleh tanaman. Beberapa di antaranya telah dihanyutkan air hingga sampai ke sungai dan danau. Pupuk itu menyuburkan tanaman air seperti eceng gondok hingga pertumbuhannya melampaui batas toleransi. Tanaman ini menyerap oksigen yang dibutuhkan oleh beberapa jenis ikan. Selain itu, eceng gondok yang membusuk menyebabkan air bersifat asam. Beberapa jenis ikan yang tidak sanggup bertahan akan mati dan akhirnya punah.

Itulah beberapa kerusakan flora dan fauna serta hal-hal yang menyebabkannya. Kerusakan itu sesegera mungkin harus kita cegah karena dampaknya akan menimpa kita juga. Apa dampak kerusakan flora dan fauna bagi manusia? Mari kita lihat.


Dampak Kerusakan Flora dan Fauna bagi Kehidupan

Kini beberapa flora dan fauna telah hilang dari habitatnya. Gajah jawa, harimau jawa dan bali, kini tinggal dongeng belaka. Suatu saat binatang yang saat ini bisa kita lihat, boleh jadi juga tinggal cerita buat anak cucu kita. Beberapa hutan telah habis dibabat berubah menjadi lahan-lahan kritis yang kelak terhanyut dan mendangkalkan sungai-sungai. Karena sudah begitu dangkal, sungai tidak lagi mampu menampung air dan meluaplah banjir menerjang segala yang ada di sekitarnya termasuk manusia. Betapa tragisnya. Berikut ini dampak yang akan terjadi jika flora dan fauna mengalami kerusakan.

a. Ekosistem Tidak Seimbang

Dalam ekosistem terdapat predator (pemangsa) dan yang dimangsa. Jika salah satu dihilangkan, ekosistem menjadi tidak seimbang dan akibatnya sangat merugikan kehidupan. Para ahli pernah mengadakan percobaan dengan membuang spesies predator, yaitu bintang laut jenis pisaster dari sebuah kawasan di pantai Amerika Utara. Di pantai itu terdapat 15 spesies yang hidup. Dalam tempo tiga bulan, udang mirip remis (bernacle) yang merupakan makanan bintang laut berkembang dengan pesat hingga menutupi tiga perempat kawasan itu. Setelah satu tahun, beberapa spesies mulai menghilang hingga tinggal delapan spesies. Dengan hilangnya bintang laut, bernacle mengambil alih permukaan karang sehingga ganggang tidak bisa tumbuh.

b. Kelangkaan Sumber Daya

Flora dan fauna merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, contohnya hutan. Hutan menghasilkan berbagai macam hasil hutan yang sangat penting bagi manusia. Mulai dari kayu, daun, bahkan getahnya berguna bagi manusia. Hutan juga mampu menyimpan air yang merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan. Jika hutan itu rusak, hilanglah sumber daya yang dihasilkannya. Lebih fatal lagi, persediaan air akan berkurang sehingga air menjadi barang langka.

c. Menurunnya Kualitas Kesehatan

Beberapa flora dan fauna merupakan sumber makanan bagi manusia. Bahkan beberapa di antaranya diusahakan manusia dengan sengaja dalam bentuk budi daya. Beberapa zat polutan dan pestisida dapat tersimpan dalam tubuh flora dan fauna itu. Jika flora dan fauna itu dikonsumsi manusia, zat-zat tersebut akan berpindah ke dalam tubuh manusia. Indikasi dari rusaknya fauna telah terbukti denganmunculnya penyakit yang disebabkan oleh binatang piaraan. Penyakit seperti anthrax (sapi gila), flu burung, dan pes adalah bukti rusaknya fauna. Beberapa fauna juga tidak layak untuk dimakan misalnya kerang yang hidup di perairan yang tercemar. Dari hasil penelitian, kerang menyerap zat logam berat dan menyimpan dalam tubuhnya sehingga sangat berbahaya jika dikonsumsi.

d. Tragedi Lingkungan karena Kerusakan Hutan

Bencana alam yang terjadi akibat kerusakan flora dan fauna sangat sering terjadi. Banjir dan tanah longsor merupakan fenomena yang amat sering kita dengar serta saksikan jika musim hujan tiba. Ini tidak lepas dari akibat kerusakan hutan. Hutan yang telah rusak tidak mampu lagi menahan air hujan sehingga air menghanyutkan tanah. Terjadilah banjir dan tanah longsor. Inilah contoh tragedi lingkungan.

e. Hilangnya Kesuburan Tanah

Unsur utama kesuburan tanah adalah nitrogen (N). Unsur ini terkandung dalam DNA makhluk hidup. Sebagian besar nitrogen yang penting itu, dihasilkan oleh flora dan fauna. Flora seperti kacang polong, buncis, dan kedelai mendorong penguraian nitrogen di dalam tanah. Suatu zat kimia dalam akar tumbuhan tersebut telah memacu pembiakan bakteri rhizobium yang dapat memproduksi nitrogen. Bakteri ini akan membentuk bintil-bintil akar yang menyediakan nitrat bagi tanaman. Beberapa jenis flora lain juga dapat menghasilkan nitrat dengan cara berbeda. Jika flora mengalami kerusakan, pembentukan nitrat akan terganggu sehingga tanah kehilangan produktivitasnya.

f. Putusnya Daur Kehidupan

Inilah dampak yang mengerikan jika flora dan fauna mengalami kerusakan. Semua bentuk kehidupan di Bumi tersusun dari unsur karbon. Karbon ini terus bergerak pada berbagai bagian biosfer dalam bentuk senyawa kimia. Karbon ada dalam tubuh organisme, dalam air, udara, dan di dalam Bumi itu sendiri. Karbon yang ada di atmosfer jika bersenyawa dengan oksigen akan membentuk karbon dioksida (CO2). Senyawa ini diserap tumbuhan dalam proses fotosintesis. Dalam tumbuhan, karbon diubah menjadi karbohidrat. Senyawa ini dibutuhkan manusia dan hewan sebagai sumber energi. Dalam tubuh manusia dan hewan, karbon berbentuk senyawa kalsium karbonat yang terdapat dalam tulang. Jika manusia dan hewan mati, jasadnya akan diuraikan oleh bakteri serta dilepaskan ke udara dalam bentuk CO2. Terulanglah daur karbon melalui tumbuhan. Jika flora dan fauna yang merupakan komponen dalam daur ini mengalami kerusakan, daur karbon akan terputus. Sudah pasti kehidupan akan terganggu. Itulah dampak yang akan terjadi jika flora dan fauna mengalami kerusakan. Sekarang, kamu tahu betapa pentingnya flora dan fauna itu. Karena itulah, menjaga kelestarian flora dan fauna bukan lagi suatu kewajiban tetapi kebutuhan. Kerusakan flora dan fauna pada akhirnya akan merugikan kita juga. Sudah saatnya sejak sekarang, kamu mulai memerhatikan lingkungan dengan kesadaran yang tinggi untuk menjaganya.

BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Biosfer merupakan kajian tentang kehidupan hewan dan tumbuhan di muka bumi. Dalam pembagiannya, biosfer termasuk dalam geografi fisik. Selain kehidupan manusia, hewan, dan tumbuha, di bagian permukaan kulit bumi juga terdapat daratan, lautan dan udara di atasnya. Oleh karena itu, biosfer tidak dapat lepas dari litosfer, hidrosfer, dan atmosfer.

Makhluk hidup atau organisme dalam biosfer memiliki tingkat organisasi yang berkisar dari tingkat yang paling sederhana (protoplasma) ke tingkat organisasiyang paling kompleks (biosfer). Yaitu mulai dari individu, populasi, komunitas, serta komunitas

B.     SARAN

Dalam kaitannya peran manusia dalam biosfer, manusia harus selalu menjaga keseimbangan dengan lingkungan. Agar lingkungan tidak rusak, maka manusia harus memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan bijaksana. Dan semoga dengan makalah ini mampu menambah pengetahuan kita tentang peran kita sebagai manusia dalam biosfer.


DAFTAR PUSTAKA


http://www.scribd.com/doc/62312396/BIOSFER

buku paket geografi yudistira kelas 1

buku paket geografi erlangga kelas 2

Yulir, Yulmadia. 2005. Geografi. Jakarta : Bumi Aksara

Sastrodinoto, Soenarjo. 1982. Biologi Umum I. Jakarta : PT Gramedia

Sastrodinoto, Soenarjo.1980. Biologi Umum III. Jakarta : PT Gramedia


Makalah Biogeografi

BAB I PENDAHULUAN A.    Latar Belakang Biogeografi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyebaran organisme di muka bumi. Biogeog... thumbnail 1 summary
BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Biogeografi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyebaran organisme di muka bumi. Biogeografi terbagi atas : Zoografi (Biogeografi Hewan) dan Fitografi (Biogeografi Tumbuhan). Studi tentang penyebaran spesies menunjukkan bahwa spesies-spesies berasal dari satu tempat, namun selanjutnya menyebar ke berbagai daerah. Organisme tersebut mengadakan diferensiasi selanjutnya menjadi subspesies baru dan spesies yang cocok terhadap daerah yang ditempatinya.

Salah satu dasar mempelajari biogeografi adalah bahwa setiap hewan dan tumbuhan muncul atau mengalami evolusi sekali saja pada masa lampau. Suatu tempat tertentu asal suatu jenis disebut pusat asal usul. Orang yang pertama kali mengemukakan adanya hubungan antara makhluk hidup dengan daerah / wilayah tertentu di permukaan bumi adalah Alfred Russel Wallace. Pada tahun 1800-an ia menerbitkan buku yang mengungkapkan adanya pola penyebaran makhluk hidup di bumi. Wallace membagi bumi menjadi 6 wilayah biogeografi karena masing-masing wilayah memiliki tumbuhan dan hewan yang khas dan unik.

B.     Rumusan Masalah

Untuk mempermudah pembahasan, maka penulis merumuskannya sebagai berikut:

1.      Apa pengertian Biogeografi?
2.      Faktor apa saja yang mempengaruhi persebaran Makhluk hidup?
3.      Bagaimana persebaran flora dan fauna di permukaan bumi dan di Indonesia ?
4.      Apa dampak kerusakan flora dan fauna serta bagaimana upaya pencegahannya?

C.    Tujuan Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
1.        Mengetahui pengertian Biogeografi
2.        Mengetahui faktor  yang mempengaruhi persebaran Makhluk hidup
3.        Mengetahui persebaran flora dan fauna di permukaan bumi dan di Indonesia
4.        Mengetahui dampak kerusakan flora dan fauna serta bagaimana upaya pencegahannya

BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian

Biogeografi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari makhluk hidup dan geografi,  dalam penyebaran atau distribusi makhluk hidup di bagian bumi termasuk asal dan cara penyebarannya. Penyebaran makhluk hidup dibedakan atas penyebaran hewan dan tumbuhan. Organisme yang dipelajari mencakup organisme yang masih hidup dan organisme yang sudah punah. Faktor-faktor lingkungan seperti suhu, curah hujan, jenis tanah dan topografi sangat mempengaruhi pola distribusi dari suatu makhluk hidup.

B.       Dasar Persebaran Makhluk Hidup

            Studi tentang Penyebaran Spesies menunjukkan Spesies berasal dari suatu tempat yang selanjutnya menyebar ke berbagai daerah. organisme tersebut kemudian melakukan diferensiasi menjadi subspesies baru dan spesies yang cocok terhadap daerah yang ditempatinya.

Biogeografi berguna dalam mengetahui dan menentukan faktor yang menyebabkan atau membatasi penyebaran suatu jenis makhluk hidup. Faktor-faktor yang memungkinkan timbulnya varietas baru merupakan pengetahuan dasar untuk memahami terjadinya species baru. Jika dua individu yang mempunyai varietas suatu species tertentu menghuni dua tempat yang berbeda tidak memungkinkan dapat melakukan hubungan reproduksi, mereka akan mengalami perubahan-perubahan dan akhirnya menjadi dua species yang berbeda, misal  :
ü  Munculnya berbagai species burung Finch di kepulauan Galapagos, diperkirakan nenek moyangnya berasal dari daratan Amerika
ü  Unta yang terdapat di  Asia, Afrika dan Ihana di Amerika Selatan, diperkirakan nenek moyangnya berasal dari Asia-Afrika.
ü   Monyet dunia baru Amerika Selatan dan monyet dunia lama di Asia-Afrika, diperkirakan nenek moyangnya berasal dari Asia-Afrika.

Alfred Russel Wallace adalah naturalis Inggris yang hidup pada tahun  1856-1993. Wallace adalah orang pertama yang berbagi teori dengan Charles Darwin tentang evolusi. Bahkan loporan wallace dari Indonesia yang memberi Inspirasi kepada Charles Darwin untuk menulis evolusinya. Perjalanan di Indonesia antara tahun 1854-1962 telah menjelajahi Nusantara sejauh 22.000 km, mengumpulkan 125.000 spesies mamalia, reptil, burung, kupu-kupu dan berbagai macam serangga. Ia adalah perintis dalam menentukan batas biogeografi Tahun 1863, ia menulis batas fauna di Indonesia yang disebut garis Wallace (nama garis ini diambil diambil dari namanya sendiri sebagai penghargaan atas penemuan dibidangnya). Kemudian 41 tahun setelah gagasan wallace lahirlah garis weber. Kedua garis ini sebagai pemisah persebaran Makhluk hidup di Indonresia. Garis Wallace membatasi Fauna Asiatis dengan Fauna Peralihan dan Garis Weber membatasi Fauna Australis dengan Fauna Peralihan. Wallace juga membagi bumi menjadi 6 wilayah biogeografi karena masing-masing wilayah memiliki tumbuhan dan hewan yang khas dan unik.

C.     Faktor yang mempengaruhi Persebaran Makhluk Hidup

Dalam biogeografi dipelajari bahwa penyebaran organisme dari suatu tempat ke tempat lainnya melintasi berbagai faktor penghalang. Faktor-faktor penghalang ini menjadi pengendali penyebaran organisme. Faktor tersebut dikelompokkan dalam faktor fisik dan faktor non fisik.

Faktor fisik :

a)      Iklim
Ø  Curah Hujan
Di daerah yang jumlah curah hujannya selalu ada sepanjang tahun ada terdapat vegetasi hujan. Semakin berkurang jumlah curah hujan, maka tanaman yang didapati sudah bukan berupa hutan lagi, akan tetapi berupa semak belukar atau padang rumput. Dan di daerah gurun, dimana curah hujannya sangat kecil maka vegetasi yang ada bergantung pada musim-musim yang ada hujannya. dengan adanya curah hujan yang tinggi, maka tanaman dan hewan dapat hidup dengan baik, karena tersedinya makanan.

Berdasarkan Kebutuhan airnya, tanaman dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu :
Hygrophytes, yaitu tanaman yang hidup dalam kondisi jumlah air banyak. Contoh : bakau
Mesophytes, yaitu tanaman yang membutuhkan air dalam jumlah sedang. Seperti halnya tanaman pada umumnya.
Xerophytes,  yaitu tanaman yang hidupnya disesuaikan dengan kadar air yang ada. Untuk mengimbangi efek kekeringan ini, maka daun dilapisi lilin untuk mengurangi transpirasi kulit pohon menjadi tebal dan sistem akar menjadi dalam  Contoh : kaktus

Ø  Suhu
Keadaan temperatur di bumi berbeda-beda karena pengaruh dari intensitas penyinaran matahari. Semakin tinggi suhu, semakin bervariatif jenis tanaman, sebaliknya, semakin jauh dari matahari, tanaman semakin sedikit bahkan tidak tumbuh.

Ø  Kelembaban Udara
Jumlah uap air yang dikandung udara akan mempengaruhi penyebaran flora. Semakin lembab, jenis tanaman semakin bervariatif. Pada udara kering, tanaman akan semakin sedikit jenisnya, bahkan ada tanaman yang hanya bisa tumbuh di daerah kelembaban yang tinggi.

Ø  Angin
Angin sangat besar pengaruhnya terhadap proses penguapan dan transpirasi bagi tanaman. Misalnya : angin Bahorok yang dapat  mengeringkan perkebunan tembakau di Delli, demikian pula dengan adanya angin dingin, angin laut, dsb. adanya arah angin yang bertiup pada suatu daerah akan mempengaruhi perkembangbiakan hewan. Selain itu, angin yang bertiup kencang juga sangat membahayakan manusia.

Ø  Sinar Matahari
Sinar matahari bagi tumbuhan diperlukan untuk pembuatan zat hijau daun atau klorofil.Tanaman yang kurang mendapat sinar matahari akan sulit mengalami perkembangan karena sinar matahari mempunyai fungsi yang penting dalam pembakaran klorofil.Matahari yang menyinari permukaan bumijuga berpengaruh dalam perkembangbiakan hewan.Sinar matahari yang terang mengakibatkan sulit berkembangbiak dengan baik karena menghalangi proses persalinan.

b)      Tanah
Tanah juga mempengaruhi pertumbuhan berbagai jenis tanaman.Tidak semua tumbuhan dapat tumbuh dengan baik pada berbagai lahan,tergantung dari unsur hara,jenis tanah,dan tingkat kesuburan.Hewan yang menempati alam semesta juga bergantung dari ketersediaan makanan.Tanah yang subur akan banyak didiami oleh tumbuhan dan hewan.

c)      Relief (Ketinggian tempat)
Tinggi rendahnya permukaan bumi akan berpengaruh pada kandungan udara dan penyinaran matahari. Daerah yang rendah banyak di tumbuhi tanaman yang lebat, sedangkan pada daerah yang tinggi akan jarang ditumbuhi tanaman. Semakin tinggi suatu daerah maka akan semakin jarang janis tanaman yang dapat tumbuh. Begitu juga dengan hewan akan berjumlah sedikit pada daerah yang tinggi.

Faktor non fisik (Biotik) :
a)        Tumbuhan
Misalnya tumbuhan besar melindungi tumbuhan yang ada di bawahnya atau diantaranya.

b)        Binatang
Pengaruh binatang terhadap binatang (insekta)  dan penyebaran biji (burung atau tupai).

c)        Manusia
Manusia dapat mengubah seluruh pertumbuhan melalui penebangan, pengairan, pemupukan, penanaman kembali. Demikian juga, misalnya mengubah hutan menjadi lahan pertanian dan lahan industri serta daerah pemukiman.

d)       Jaring-jaring makanan
Jaring-jaring makanan yaitu rantai-rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Jaring-jaring makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis makhluk hidup lainnya. Jaring jaring makanan memiliki pengaruh yang besar juga terhadap persebaran makhluk hidup, adanya jaring jaring makanan ini akan menjadikan bertahannya suatu populasi hewan atau tumbuhan, atau justru sebagai penghambat kehidupan mereka karena tidak sesuainya lingkungan dan populasi yang ada diwilayah setempat .

e)        Kemampuan Beradaptasi
Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk tetap hidup dengan baik. Makhluk hidup akan mampu bertahan dalam lingkungannnya, dimana ketika mereka memiliki kamampuan untuk baradaptasi sebagai wujud pencegahan serangan dari musuh atau pertahanan diri. Namun tidak semua makhluk hidup baik tumbuhan maupun hewan memiliki kemampuan untuk berdapatasi, melainkan hanya hewan dan tumbuhan tertentu.

macam-macam adaptasi
1.      Adaptasi Morfologi

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba, dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.

2.      Adaptasi Fisiologi
 Adapatasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adaptasi fisiologis adalah seperti pada binatang atau hewan Onta yang mempunyai kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan minyak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.

3.    Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi Tingkah laku adalah penyesuaian makhluk hidup pada tingkah laku atau perilaku terahadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai denagn warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujaun menyembunyikan diri.

D. Persebaran Flora dan Fauna di Permukaan Bumi

1. Persebaran Flora di Permukaan Bumi
Hutan
Hutan Hujan tropis
Ciri- ciri :
ü  Curah hujan daerah ini tinggi
ü  Tumbuhannya rapat dan daunnya lebar.

Flora atau vegetasi yang hidup di dalamnya :
ü  Tumbuhan yang banyak dijumpai anggrek dan rotan
Wilayah :
ü  Tersebar di indonesia, australia bagian utara, amerika Tengah, Afrika tengah, dan papua.

Hutan Musim tropis
Ciri-ciri   :
ü  Banyak ditemukan di daerah beriklim tropis, karena pembagian musimnya jelas antara musim penghujan dan musim kemarau.
ü  Menggugurkan daunnya pada musim kemarau.
ü  Jenis pohonnya lebih pendek dari jenis pohon di hutan tropis.
ü  terdiri dari pohon yang sejenis.

Flora atau vegetasi yang hidup di dalamnya :

ü  Pada hutan musim jenis pohon yang ditanam adalah kapuk, jati, angsana
Wilayah :
ü  Hutan musim Tropis tersebar di wilayah Amerika Selatan, Amerika Tengah, Malaysia, Australia Utara, India, dsb

Hutan Hujan daerah sedang
Ciri-ciri   :
ü  Kondisi daun pada daerah ini selalu berwarna hijau.
ü  Terdapat pada daerah lintang 30o-55o baik lintang utara maupun lintang selatan.
ü  Jenis tumbuhan yang hidup tidak terlalu tinggi dan spesies tidak terlalu banyak.

Flora atau vegetasi yang hidup di dalamnya :
ü  Jenis tumbuhannya berupa pakis, bambu, palem dsb.

Wilayah  :
ü  Persebarannya meliputi australia dan Selandia Baru.

Hutan Gugur
Ciri-ciri   :
ü  Hutan ini terdapat pada daerah yang beriklim sedang dengan curah hujan 750-1.000mm/tahun.
ü  Pohon relatif jarang dengan jumlah spesies sedikit.
ü  Rumput dapat tumbuh dengan baik di daerah ini sehingga membentuk stepa.
ü  Pada musim dingin, daun-daunnya akan gugur, dan akan tumbuh lagi pada musim panas.

Flora atau vegetasi yang hidup di dalamnya :
ü  maple (Acer campestre), sycamore (Acer pseudoplanatus), oak (Quercus sp), elm (Ulmus), ash (Fraximus) beech (Fagus)

Wilayah :
ü  Bioma ini dapat dijumpai di Amerika Serikat, Eropa Barat, Asia Timur, dan Chili.

Hutan Berdaun Jarum (Hutan Konifer)
Ciri-ciri   :
ü  Terdapat pada daerah diatas lintang 60o.
ü  Memiliki musim panas yang pendek dan musim dingin yang panjang.


Flora atau vegetasi yang hidup di dalamnya :
ü  Pohon pohon yang berdaun jarum seperti pinus dan karena tingginya kelembaban pada hutan ini, terdapat pohon dengan jenis pohon terbesar didunia yaitu jenis pohon Sequoia, yang menapai ketinggian 100 meter

Wilayah :
ü  Persebarannya berada di daerah Siberia,Rusia,Kanada dan Amerika Utara.

Padang Rumput
Padang rumput terdapat di daerah Tropis sampai Subtropis. Daerah ini mendapatkan curah hujan yang tiadak teratur. Tanaman yang ada merupakan hamparan padang rumput yang luas. Terdapat di Eropa (Hongaria, Rusia Selatan), Asia, Amerika Utara dan Selatan. Afrika Tengah dan Selatan.

Ciri-ciri lingkungan :
ü  Curah hujan rendah (25 – 30 cm/tahun).
ü  Suhu udara 100 – 30 0C.
ü  Porositasnya rendah sehingga tidak mampu menyimpan air.

Vegetasi klimaks yang dominan adalah jenis rumput yang diselingi oleh tumbuhan perdu. Padang rumput tersebut mempunyai nama yang berbeda-beda di beberapa tempat, antara lain :

ü  Stepa (di Rusia Selatan)
ü  Puzta (di Hongaria)
ü  Prairi (Amerika Utara)
ü  Pampa (Argentina / Amerika Selatan)
ü  Savana (Afrika)


Sabana
Sabana adalah padang rumput yang luas yang diselingi oleh pohon-pohon yang jarang. Iklim relatif  kering dan kelembaban relatif rendah sehingga tumbuhan yang bertahan hidup  adalah tumbuhan Xerophytes Penyebaran di afrika, Amerika Selatan, Asia Tengah, Australia, Amerika Utara bagian tengah.

Stepa
Stepa adalah padang rumput luas dan diselingi pohon-pohon perdu. Berada pada daerah lintang rendah sampai sedang (daerah peralihan). Pesebarannya di Australia, Afrika Utara, Amerika Serikat Dan Brazil.

Praire
Praire adalah rumput yang tinggi sehingga membentuk suatu padang rumput tanpa diselingi semak belukar. Berada pada daerah beriklim sedang. Persebarannya berada di daerah  Central Plain di Amerika Utara.

Tundra
Merupakan daerah yang dingin dan tandus tanpa pepohonan, karena hampir sepanjang tahun tertutup oleh es. Umumnya terdapat di belahan bumi utara. Ekosistem tundra sering disebut padang lumut. Pada musim panas waktunya singkat, sedang pada musim dingin suhunya bisa mencapai 10o C (daerah kutub utara). Flora atau vegetasi yang ada di dalamnya meliputi lumut Sphagnum dari kelas Musci (lumut daun) dan Lichenes (lumut kerak). Daerah tundra banyak terdapat di sebelah utara Amerika Utara dan Eurasia.

 Gurun
Ciri-ciri :
ü  Perbedaan yang ekstrim mengakibatkan daerah ini menjadi panas dan tandus, sehingga tanaman sulit berkembang dengan baik..
ü  Siang hari suhu mencapai 40o C, malam hari mencapai 10o C.
ü  Curah hujannya sangat rendah  yaitu kurang dari 250omm/ tahun. Maka saat turun hujan tanaman akan cepat tumbuh dan berbuah.

Flora atau vegetasi yang ada di dalamnya :
ü  Flora daerah gurun memiliki ciri berdaun jarum seperti kaktus atau rumput keras
Wilayah :
ü  Daerah Penyebarannya terdapat di Asia Kecil, Afrika Utara dan Selatan, Amerika Selatan dan Barat, China, dan Mongolia.


Dampak Kerusakan Flora dan Fauna serta upaya pencegahannya


Kerusakan Flora dan Fauna disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :

1.      Faktor Alam

a)      Seleksi Alam
Kehidupan alam bebas akan terbentuk suatu pertarungan langsung maupun tidak langsung antara individu dari spesies yang sama atau spesies yang berlainan. Dengan begitu akan membentuk spesies yang kuat. Menurut Hubert Spencer, seleksi alam disebabkan oleh keberhasilan reproduksi dan dipengaruhi oleh evolusi. Organisme yang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan alam itulah yang mampu bertahan hidup, sedangkan organisme yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan alam mereka akan berpindah ke tempat yang sesuai dengan habitatnya atau punah.

b)      Bencana Alam
Bencana alam yang silih berganti itu menyebabkan kerusakan flora dan fauna, misalnya: banjir, tanah longsor, gempa bumi baik vulkanik maupun tektonik, dan badai. Akibat bencana itu bisa menyebabkan punahnya suatu spesies.

2.      Faktor Manusia

Manusia yang jumlahnya lebih dari lima milyar secara tidak langsung menyebabkan kerusakan ekosistem yang sudah terbentuk. Biasanya manusia membutuhkan tempat tinggal atau desakan ekonomi sehingga terpaksa membuka lahan baru dengan menebang hutang secara besar-besaran tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem.  Dengan demikian hutan menjadi gundul. Dan hewan yang menempati daerah itu akan pergi ke habitat yang baru dimana tempat yang baru tersebut belum tentu cocok, sehingga menyebabkan kepunahan.

Dampak Terhadap Kehidupan

Dampak terhadap kehidupan manusia, antara lain:
  1. Habisnya persediaan makanan dan minuman bagi manusia, yang bahan bakunya berasal dari flora dan fauna yang tersedia di alam
  2. Terganggunya keseimbangan ekosistem di lingkungan kehidupan manusia
  3. Banyak manusia yang akan meninggal dunia, karena persediaan bahan makanan dan minuman yang sudah habis
  4. Tidak ada lagi kehidupan di dunia ini, dll.
Pelestarian Flora dan Fauna

Pemerintah mengembangkan kelestarian alam dengan berbagai cara, diantaranya :
Perlindungan alam ketat, merupakan perlindungan terhadap keadaan alam yang dibiarkan tanpa campur tangan manusia, kecuali jika dipandang perlu. Tujuan perlindungan ini adalah untuk penelitian dan tujuan ilmiah, contohnya : Taman Nasional Ujung Kulon (Banten).

Perlindungan alam terbimbing, merupakan perlindungan keadaan alam yang dibina para ahli. Misalnya : Kebun Raya Bogor.

Taman Nasional, merupakan keadaan alam yang menempati suatu daerah yang luas, dan tidak boleh ada rumah tinggal dan bangunan industri. Tempat ini dimanfaatkan sebagai wahana rekreasi atau tempat wisata. Contohnya : Taman Safari Prigen di Malang, Taman Safari Cisarua di Bogor, dan Taman Safari Way Kambas di Lampung.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari paparan diatas kami menarik kesimpulan bahwa Persebaran Flora dan Fauna baik Persebaran Flora Fauna di Permukaan Bumi maupun Persebaran Flora Fauna di Indonesia memiliki perbedaan pembagian persebaran ;

ü  Persebaran Flora Fauna di Permukaan Bumi meliputi wilayah Paleartik, Neartik, Ethiopian, Oriental, Neotropik, dan Australian

ü  Persebaran Flora Fauna di Indonesia meliputi wilayah Indonesia bagian Barat(Asiatis), Indonesia bagian tengah (Peralihan), dan Indonesia bagian Timur(Australis). Yang mana pembagian wilayah tersebut didasarkan pada Garis Wallace dan Garis Weber. Garis Wallace membatasi Fauna Asiatis dengan Fauna Peralihan dan Garis Weber membatasi Fauna Australis dengan Fauna Peralihan.

Persebaran Flora dan Fauna juga disebabkan oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut baik dari alam maupun tindakan yang disengaja oleh manusia sehingga mengakibatkan banyak persebaran yang terjadi di seluruh permukaan bumi ini.

B.     Saran

Kita mewarisi bumi ini dari orang tua kita dan kelak akan mewariskannya pula kepada anak-anak kita. Mereka yang yakin akan konservasi, yaitu penyelamatan sumber daya alam merasa berkewajiban untuk meneruskan sesuatu yang lebih baik daripada yang kita terima dulu. Jadi gunakanlah apa yang diberikan bumi ini secara bijaksana dengan memikirkan hari esok. Kekayaan alam seharusnya tidak dihamburkan dengan sia-sia. Segala sesuatu yang diwariskan bumi, baik keanekaragaman hayati berupa flora maupun faunanya wajib disyukuri dan perlu diselamatkan. Oleh sebab itu, janganlah warisan yang besar ini dikotori, tetapi harus dilestarikan seluruh isinya demi kelangsungan hidup manusia di masa datang.








DAFTAR PUSTAKA


http://fajarichwannoor.wordpress.com/biogeografi-dan-persebaran-hewan-di-muka-bumi

http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0030%20Bio%201-7a.htm

S, Danang. 1999. LKS Kharisma BIOLOGI Kelas 3. Jakarta : CV. HK Mj. Solo.

Tim Kreatif. 2010. Geografi SMA kelas XI. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Yulir Yulmadia. 2005. Geografi kelas 2 SMA . Jakarta : Bumi Aksara

Keterampilan Menyimak Definisi, Tahapan, Jenis-Jenis Dari Menyimak

MENYIMAK A.     Pengertian dan Batasan Dalam bahasa Karo terdapat suatu pemeo yang be... thumbnail 1 summary
MENYIMAK

A.    Pengertian dan Batasan
Dalam bahasa Karo terdapat suatu pemeo yang berbunyi “Tuhu nge ibegina, tapi idengkehkenna” yang bermakna “memang didengarnya, tapi tidak disimaknya”.
Antara suami istri dalam rumah tangga atau antara muda-mudi pada masa pacaran sering terdengar main-main atau selong tetapi sebenarnya bermakna dalam, yang berbunyi: “Abang sih, main-main saja. Kalau abang cinta sama adik, jangan hanya mendengar isi hati adik, tetapi harus juga menyimaknya”.
Pada orang tua sering pula kita dengar memberi nasihat kepada putra-putrinya: “Kalau orang tua sedang berbicara, hangan hanya sekedar mendengar saja, masuk dari telinga kiri keluar telinga kanan, tetapi simaklah, dengarkanlah baik-baik. Masukkan ke dalam hati”.
Memang di atas bumi ini terdapat banyak telinga yang kegiatannya hanya sampai tingkat mendengar saha, tetapi belum sampai pada taraf menyimak. Sampai-sampai Nabi Yeremia mengeluh karena jemaatnya banyak yang mempunyai mata tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga tetapi tidak mendengar, (Yeremia, 5:21).
Dari cukilan-cukilan diatas dapat kita lihat bahwa terdapat perbedaan antara mendengar dan menyimak. Dalam bahasa Inggris mendengar, berarti “to hear”, sedangkan menyimak bermakna “to listen”, atau dalam bentuk gerund-nya masing-masing hearing dan listening.
Don Brown, dalam disertasinya yang berjudul “Auding as the Bimary Language, Ability” pada Standford University, 1954, menyarankan bahwa istilah-istilah learning dan listening kedua-duanya terbatas dalam makna dan bahwa cuding yang diturunkan dari kata-kerja neologis to aud, lebih tepat melukiskan, memerikan ketrampilan yang ada sangkut pautnya dengan para guru. “Auding is the ears what reading is to the eyes”. Kalau membaca merupakan proses besar melihat, mengenal serta menginterpretasikan lambang-lambang tulis, maka menyimak dapatlah dibatasi sebagai proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan (Anderson, 1972:68).
Bahkan Russell & Russel mempergunakan formula berikut ini untuk mengkontraskan atau mempertentangkan reading dan auding lebih lanjut:

Secing is to Hearing
as
Observing is to Listening
as
Reading is to Auding

Atau dalam bahasa Indonesia
Kalau: Melihat bagi Mendengar
Maka
Mengamati bagi Mendengarkan
Dari
Membaca bagi Menyimak

Maka dengan demikian, menyimak bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi. (Russell & Russell, 1959, Anderson, 1972:69).
Menyimak dan membaca berhubungan erat karena keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi, perbedaannya terletak dalam hal jenis komunikasi: menyimak berhubungan dengan komunikasi lisan, sedangkan membaca berhubungan dengan komunikasi tulis. Dalam hal tujuan keduanya mengandung persamaan, yaitu: memperoleh informasi, menangkap isi, memahami makna komunikasi (Tarigan, 1980: 9 – 10).
Dari pembicaraan diatas, maka dapatlah kita tarik kesimpulan serta membuat batasan menyimak sebagai berikut:
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komuniaksi yanag tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.

B.     Tahap-tahap Menyimak
Menurut Ruth G. Strickland, terdapat 9 tahap menyimak yang secara berurutan mulai dari yang tidak berketentuan sangat kepada yang amat bersungguh-sungguh. Tahap-tahap tersebut dapat dilukiskan sebagai berikut:

1.   Menyimak secara sadar yang bersifat berkala hanya terdapat pada saat-saat sang anak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya.
2.    Selingan-selingan atau gangguan-gangguan yang sering terjadi sebaik dia mendengarkan secara intensional (atau disengaja tetapi yang bersifat dangkal (atau superfisial)).
3.    Setengah mendengarkan sementara dia menunggu kesempatan untuk mengekspresikan isi hatinya, mengutarakan apa yang terpendam dalam hatinya.
4.    Penyerapan, absorpsi, keasyikan yang nyata selama respon atau penangkapan pasif yang sesungguhnya.
5.  Menyimak sekali-sekali, menyimpan sebentar-sebentar di perhatian yang seksama bergantian dengan keasyikan, dengan ide-ide yang dibawa oleh kata-kata sang pembicara kedalam hati dan pikiran.
6.  Menyimak asosiatif dimana pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan diingat sehingga si penyimak benar-benar tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan oleh si pembicara.
7.  Reaksi berkala terhadap pebicara dengan membuat komentar atau mengajukan      pertanyaan.
8.    Menyimak secara seksama dan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran sang             pembicara, dan
9.  Menyimak secara aktif mendapatkan serta menemukan pikiran serta pendapat sang pembicara (Strickland, 1957. Daws [et al], 1963:154).
Perbedaan tahap-tahap menyimak sebenarnya mencerminkan perbedaan taraf keterlibatan atau keikutsertaan seseorang. Situasi-situasi berikut ini merupakan contoh-contoh tahap-tahal menyimak dipandang dari segi perbedaan maksud dan tujuan.
1.    Mendengar bunyi-bunyi katak-kata tetapi tidak memberikan reaksi kepada ide-ide yang diekspresikan, misalnya seorang ibu tahu bahwa anaknya Non bicara, tetapi sng ibu tidak memperhatikannya.
2.    Menyimak sebentar-sebentar memperhatikan sang pembicara sebentar-sebentar, contoh: mendengar satu ide pada suatu khotbah atau suatu ceramah tetapi ide-ide lainnya tidak didenganr apalagi didengarkan.
3.  Setengah menyimak, mengikuti diskusi atau pembicaraan hanya dengan maksud memperoleh suatu kesempatan untuk  mengekspresikan ide sendiri, contoh seorang yang mendengarkan suatu konversasi atau percakapan hanya untuk mencarai kesempatan untuk menemukan kepada yang hadi bagaimana caranya mengurus/memelihara ulat sutera.
4.     Menyimak secara pasif dengan sedikit responsi yang tampak, yang kelihatan contoh sang anak mengetahui bahwa sang guru mengakatan kepada seluruh kelas sekali lagi bagaimana cara berjalan di dalam ruangan, supaya jangan mengganggu orang lain, karena sang anak sudah tahu, maka penyimakannya secara pasif saja, dan responsinya pun tidak begitu besar.
5.    Menyimak secara sempit, dalam hal ini makna atau penekanan yang penting hilang dan lenyap karena sang penyimak menyeleksi detail-detail yang biasa, yang berkenan, ataupun yang sesuai padanya, yang dapat disetujuinya contoh seorang anggota partai Republik  menyimak pembicaraan seorang kandidar dari partai lain. Karena kesibukannya memilih ide yang diinginkannya maka dia kehilangan ide utama sang pembicara. Inilah akibat penyimakan yang sempit (narrow listening), ketertutupan hati seseorang.
6.  Menyimak serta membentuk asosiasi-asosiasi dengan butir-butir atau hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman pribadi seseorang, contoh: seorang siswa sekolah dasar mendengar bunyi awal kata-kata karim, kurang, kaya, kita dan menghubungkannya dengan huruf h.
7.  Menyimak suatu laporan untuk menangkap ide-ide pokok-pokok dan unsur-unsur penunjang, atau mengikuti petunjuk-petunjuk menyimak peraturan-peraturan serta uraian-uraian suatu permainan baru.
8.  Menyimak secara kritis seorang penyimak memperhatikan nilai-nilai kata emosional dalam suatu iklan atau advertensi radio.
9.     Menyimak secara apresiatif dan kreatif dengan responsi mental dan emosional sejati        yang matang, misalnya: seorang siswa menyimak gurunya membacakan riwayat perjuangan Sisimangaraja menentang penjajahan Belanda, dan memperoleh kegembiraan karena dapat mengetahui sifat-sifat pahlawan sejati. (Anderson; 1972:69).
Demikianlah telah dikemukakan tahap-tahap menyimak dari dua sumber. Dengan sedikit variasi disana-sini dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya kedua sumber seiring sejalan, kadang-kadang bertumpang tindih. Jangankan dari kedua sumber tersebut, bahkan antara tahap-tahap yang telah diajarkan itu sendiri pun terdapat tumpang tindih, Namun demikian semua itu melukiskan menyimak dalam hubungannya dengan situasi-situasi yang diketahui oleh sang guru. Kita ketahui bahwa dalam pendidikan formal atau di sekolah memang mungkin membimbing kegiatan menyimak anak-anak didik sehingga daya simaknya dapat bersifat selektif, bertujuan, tepat, kritis dan kreatif seperti juga kita dapat membimbing mereka dalam pertumbuhan ketrampilan membaca. Oleh karena itu kita perlu mengetahui jenis-jenis menyimak, tujuan, serta ciri-cirinya.

C.    Jenis-jenis Menyimak
Dalam pembicaraan terdahulu telah dikemukakan bahwa tujuan menyimak adalah untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi y ang hendak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran. Inilah merupakan tujuan umum. Di samping tujuan umum itu terdapat pula beraneka ragam tujuan khusus, yang menyebabkan adanya beraneka ragam menyimak, antara lain:
1.      Menyimak eksternsif
2.      Menyimak intensif
3.      Menyimak sosial/konversasional
4.      Menyimak sekunder
5.      Menyimak estetik/apresiatif
6.      Menyimak kritis
7.      Menyimak konsentratif
8.      Menyimak kreatif
9.      Menyimak interogatif
10.  Menyimak eksplorasi
11.  Menyimak pasif
12.  Menyimak selektif

Berikut ini akan diperbincangkan satu persatu secara berurutan:
1.      Menyimak ekstensif
Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berhubungan dengan atau mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap sesuai bahasa, tidak perlu dibawah bimbingan langsung seorang guru. Pada umumnya membaca ekstensif dapat dipergunakan bagi dua tujuan yang berbeda.
Penggunaan yang paling dasar ialah untuk menyajikan atau memperkenalkan kembali bahan yang telah diketahui dalam suatu lingkungan baru dengan cara yang baru. Ini dapar merupakan suatu struktur yang baru-baru ini telah diajarkan atau suatu perangkat leksikal yang telah diperkenalkan beberapa bula sebelumnya dan memerlukan perbaikan. Keuntungan menyingkatkan bahan lama kepada siswa dengan cara ini ialah bahwa mereka melihat hal itu dengan sewajarnya dalam lingkungan yang asli dan alamiah, bukan hanya sekedar dalam konteks kelas, tempat hal itu pertama kali mungkin disajikan. Secra psikologis menyimak ekstensif terhadap bahasa “nyata” (sebagai lawan dari bahasa “tulis”) akan sangat memuaskan selama kegiatan tersebut dapat memperagakan bahwa upaya-upaya siswa di dalam kelas akan memberi keuntungan dalam kehidupan lingkungan bahasa yang hidup. Salah satu dari kegagalan-kegagalan pengajaran bahasa yang paling besar dan paling umum ialah bahwa apa-apa yang diajarkan kepada siswa secara keseluruhan tidak mencukupi untuk menggarap arus atau tumpukan rangsangan yang berhubungan dengan pendengaran yang datang kepadanya dari segala arah, pada saat pertama kalinya dia menginjakkan kaki di negeri asing (misalnya di Inggris, bagi siswa yang belajar bahasa Inggris). Maka menyimak ekstensif tipe ini akan dapat membantunya dengan baik. Bahan-bahan yang didengarnya tentu saja tidak perlu hanya merupakan suatu penyajian kembali apa-apa yang telah diketahuinya.
Menyimak  ekstensif dapat pula meladeni fungsi elanjutnya, yaitu membiarkan siswa mendengar butir-butir kosa kata dan struktur-struktur yang masih asing dan baru baginya yang terdapat dalam arus bahasa yang berada di dalam kapasitasnya untuk menanganinya. Mungkin saha terdapat kata-kata teknis yang belum dikethaui ataupun bentuk kata kerja yang baru lagi asing. Dalam hal ini terdapat suatu familiarisasi atau keakraban yang tidak disadari terhadap bentuk-bentuk yang dalam waktu singkat akan menjadi bahan-bahan pengaharan dalam suatu pelajaran bahasa, berbicara, terutama sekali yang menarik bagi usia muda merpukan suatu contoh menyimak ekstensif, dan kerapkali diketahui dan beberapa struktur yang belum diajarkan. Pemahaman tidaklah dapat secara serius dan wajar terhalang selama min paksaan terhadap cerita itu dapat menarik perhatian dan keakraban terhadap kerangka bahasa itu cukup untuk menyediakan suatu alur yang bersifat menjelaskan yang memuaskan bagi bahasa yang belum di ketahui.
Guru sendiri merupakan sumber modal dalam berceritera karena salah satu dari tujuan menyimak ekstensif adalah menyajikan kembali bahan lama dalam suatu cara yang baru, maka seringkali baik sekali bila hal ini dilakukan dengan pertolongan pita-pita otentik pembicaraan dalam masyarkat, dimana sang guru tidak terlibat di dalamnya. Yang jauh lebih efektif serta meyakinkan adalah kutipan-kutipan dari ujaran yang nyata dan hidup.
Pada umumnya, sumber yang paling baik bagi bagian-bagian menyimak ekstensif adalah rekaman-rekaman yang dibuat oleh guru sendiri. Rekaman-rekaman tersebut dapat dibuat dari berbagai sumber, misalnya dari siaran radio, televisi (Broughtor, [et al]; 1978:69-70).
2.      Menyimak intensif
Kalau menyimak ekstensif lebih diarahkan pada menyimak bahasa alamiah secara lebih bebas dan lebih umum serta tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari sang guru, maka menyimak intensif diarahkan pada suatu yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu. Dalam hal ini haruslah diadakan suatu pembagian penting, yaitu:
a.       Menyimak intensif ini terutama sekali dapat diarahkan pada butir-butir bahasa sebagai bagian dari program pengajaran bahasa atau
b.      Terutama sekali dapat diarhkan pada pemahaman serta pengertian umum. Jelas bahwa dalam kasus yang kedua ini makna bahasa secara umum sudah diketahui oleh para siswa.
Kita perlu mengingat bahwa kosa kata percakapan kerapkali sangat berbeda dengan kosa kata bahasa tulis yang mungkin saha lebih diakrabi oleh siswa. Oleh karena itu, maka m enyimak pada percakapan-percakapan sangat bermanfaat baginya untuk membiasakan pendengarannya terhadap apa yang hendap didengarnya, kalau dia mengunjungi daerah asal bahasa asing tertentu (misalnya mengunjungi Inggris, bagi siswa yang belajar bahasa inggris, mengunjungi Indoneis bagi siswa Australia yang belajar bahasa Indonesia).
Dismping ke arah leksikal, menyimak pun dapat pula ditujukan pada maksud-maksud gramatikal. Untuk ini harus dipilih bahan yang mengandung ciri ketatabahasaan tertentu sesuai dengan tujuan, Sesudah itu diberikan pula latihan-latihan yang sesuai dengan tujuan. Salah satu cara yang amat sederhana untuk melatih tipe menyimak seperti ini ialah menyuruh para siswa menyimak, tanpa teks tertulis sekali atau dua kali, suatu bagian yang mengandung beberapa penghubung kalimat, kemudian memberikan kepada mereka teks-teks tertulis dengan mengosongkan tempat penghubung-penghubung kalimat itu berada. Tugas mereka adalah mengisinya tanpa menyimak pada puita lagi. Pada umumnya praktek dan latihan menyimak itu sering sekali dilalaikan orang pada tingkat wacana. Dalam hal itu penekanan dapat diletakkan pada fonologi, kosa-kata, dan tata bahasa katak-kata dan bahkan kalimat, tetapi mata rantai-mata rantai linguistik yang menghubungkan atau memadukan kalmat-kalimat menjadi suatu wacana yang logis biasanya dilupakan, dan dengan demikian maka pemahaman pendengaran (aural comprehension) pada siswa terhalang tidak dapat berkambang dengan memuaskan.
Kita semua sama-sama maklum bahwa adalah mungkin mendengar dengan sempurna, tetapi belum tentu dapat menyimak dengan baik, selanjutnya ada kemungkinan untuk menyimak, tetapi belum tentu memahaminya. Oleh karena itu menyimak makna merupakan suatu ketrampila penting untuk dikembangkan, tetapi haruslah pula bahwa isi yang sebenarnya dan pesan tersebut haruslah berada dalam jangkauan intelektual dan kedewasaan para siswa
Disamping itu ada faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan selain daripada bahan aktual teks aural itu. Salah satu diantaranya adalah formalitas bahasa yaitu situasi tempat berada pada poros berikut ini:
Slang – akrab – netal – formal
Kebanyakan kelas sedikit sekali mengingat latihan dan praktek dengan sesuatu selain daripada bahasa netral. Faktor lain menyangkut kecepatan pengutaraan: apakah itu suatu percakapan yang cepat atau suatu ujaran yang diatur? Lebih jauh, apakah dipersiapkan dan dilatih, ataupak mendadak tanpa persaingan beberapa orang ikut terlibat? Jelaskan bahwa semakin bantak telibat semakin sulit jadinya. Apakah aksen si pembicara sudah biasa didengar oleh siswa? Aksen-aksen bahasa regional atau kelompok sangat membingungkan siswa pada pendengaran pertama, bahkan bagi beberapa siswa mencemaskan. Sekali lagi, kekurang akraban dengan faktor-faktor  ini benar-benar dapat mengganggu pemahaman siswa terhadap makna bagian tersebut.
Suatu hal lagi yang harus dipertimbangakan baik-baik, yaitu pemakaiannya sama saja bagi menyimak demi bahasa atau bahasa menyimak demi makna, dalah tiper pertanyaan yang diajarkan kepada siswa. Yang paling sederhana adalah bentuk pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, dan benar atau salah. Pada latihan-latihan. Juga dapat dipergunakan latihan mengisi titik-titik kosong dengan kata-kata atau frase-frase yang sesuai. Pendeknya, segala pertanyaan dan latihan haruslah sesuai dengan tingkat kemampuan siswa serta tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan menyimak itu.
Menyimak pemahaman dapat pula merupakan batu loncatan bagi yang lain, misalnya buat apresiasi sastra. (Broughton [et al]; 1978 : 72-74).
3.      Menyimak sosial
Pengalaman menunjukkan bahwa anak kecil mempunyai sedikit alasan atau sebab untuk menyimak secara tekun dan sungguh-sungguh. Cukuplah kalau sang anak mempunyai jenis pilihan menyimak secara acak (random) kalau dia  mengobrol dengan teman-teman sebayanya pada kegiatan-kegiatan bermain atau dengan keluarganya dalam suatu usaha menjadi orang penceramah yang suka bergaul. Juga, dia menyimak secara kebetulan walaupun dengan perhatian yang nyata, pada cerita-cerita yang dibacakan atau disampaikan oleh ibunya. Menyimak secara kebetulan seperti itu sangat penting sepanjang hidup kita dan dapat dikatkan mempunyai beberapa fase, yaitu:
a.       Menyimak sosial
b.      Menyimak sekunder
c.       Menyimak estetik
Menyimak sosial (social listening) atau menyimak konversasional (conversational listening) ataupun menyimak sopan  (courtens listensing) bisanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol atau bercengkrama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang dan saling mendengarkan satu sama lain untuk membuat responsi-responsi yang pantas, mengikuti detail-detail yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa-apa yang dikemukakan, dikatakan oleh seorang rekan (Dawson, [et al]; 1963 : 153).
Dengan perkataan lain dapat dikemukakan bahwa menyimak sosial paling sedikit mencakup dual hal, yaitu:
a.       Menyimak secara sopan santun dan dengan penuh perhatian percakapan atau konversasi dalam situasi-situasi sosial dengan suatu maksud.
b.      Mengerti serta memahami peranan-pernanan pembicara dan menyimak dalam proses komunikasi tersebut (Anderson, 1972:69).
Oranag-orang yang dapat mentaati kedua hal tersebut di atas dikatakan sebagai anggota-anggota masyarakat yang baik.
4.      Menyimak sekunder
Menyimak sekunder (secondary listening) adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan dan secara ekstensif (casual listening dan extensive listening), misalnya:
a.       Menyimak pada musik yang mengiringi ritme-ritme atau tari-tarian rakyar di sekolah dan pada acara-acara radio yang terdengar  secara sayup-sayup sementara kita menulis surat pada teman di rumah.
b.      Menikmati musik sementara ikut berpartisipasi dalam tipe tertentu kegiatan-kegiatan sekolah seperti melukis pekerjaan tangan dengan tanah liat, membuat seketsa, dan latihan menulis dengan tulisan tangan (Dawson, [et al]; 1963 : Anderson; 1972 : 69).
5.      Menyimak estetik
Menyimak estetik (esthetic listening) ataupun yang disebut juga menyimak apresiatif (appreciation listening) adalah terakhir dari kegiatan menyimak secara kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif, mencakup:
a.       Menyimak musik, puisi, membaca bersama, atau drama, terdengar pada radio atau rekaman-rekaman.
b.      Menikmati cerita-cerita, puisi-puisi, teka-teki, gemereng irama, dan lakon-lakon yang dibacakan atau diceritakan oleh guru atau siswa-siswa (Anderson; 1972. 69. Dawson [et al] 1963: 153).
Ketiga jenis menyimak tadi yaitu menyimak sosial, menyimak sekunder, dan menyimak estetik, dapat dimasukkan ke dalam kelompok menyimak ekstensif yang telah dibicarakan diatas.
Dan selanjutnya jenis-jenis menyimak kritis, menyimak kreatif sentratif, menyimak kreatif, menyimak interogatif, menyimak eksplorasi yang akan diperbincangkan berikut ini termasuk dalam kelompok menyimak intensif.
6.      Menyimak kritis
Menyimak kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang di dalamnya sudah terlihat kurangnya (tiadanya) keaslian, ataupun kehadiran prasangka serta ketidak telitian yang akan diamati. Adalah merupakan seorang menyimak yang terkecuali bila dia dapat menyimak secara objektif dan dapat menghargai suatu tuntutan yang menarik emosi ataupun suatu disertasi yang menuntut perasaan dan dengan suatu kesimpulan yang faktual serta dapat dipertahankan. Namun demikian, dalam masyarakat demokrasi kini kita tetap saja dapat menemui situasi-situasi tempat pada penghasut atau para demagog menyemburkan kebenaran-kebenaran yang masih dapat dipertahankan keasliannya. Fakta-fakt yang berubah-ubah dan pendapat-pendapat mereka yang penuh prasangka, membuat para penyimaknya perlu menlai dengan teliti apa-apa yang telah dikatakan oleh si pembicara dalam suatu upaya untuk menentukan apakah informasi serta pendengaran-pendengarannya itu terpercaya, terandalkan ataukah tidak. Anak-anak kita perlu belajar mendengarkan, menyimak secara kritis untuk memperoleh kebenaran (Dawson, [et al]; 1963:154).
Secara agak terperinci kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam menyimak kritis adalah sebagai berikut:
a.       Memperhatikan kebiasaan-kebiasaan ujaran yang tepat, kata, pemakaian kata, dan unsur-unsur kalimat yang lain-lainnya.
b.      Menyimak untuk menentukan alasan “mengapa”
c.       Menyimak untuk memahami makna-makna petunjuk-petunjuk konteks
d.      Menyimak untuk membedakan antara fakta dan fantasi, antara yang berelevansi dan yang tidak berelevansi.
e.       Menyimak untuk menarik kesimpulan-kesimpulan
f.       Menyimak untuk membuat keputusan-keputusan
g.      Menyimak untuk menemukan jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah tertentu yang memerlukan pemilihan serta konsentrasi.
h.      Menyimak untuk menentukan informasi baru atau informasi tambahan mengenai suatu topik.
i.        Menyimak menafsirkan menginterpretasikan ungkapan-ungkapan, idiom-idiom dan bahasa-bahasa yang belum umum, yang belum biasa.
j.        Menyimak secara objektif dan penuh penilaian untuk menentukan keasilan, kebenaran atau hadirnya prasangka dan ketidaktelitian-ketidaktelitian (Anderson; 1972: 69-70).
7.      Menyimak konsentratif
Menyimak konsentratif (concentrative listening) sering juga disebut a study-type listening atau menyimak yang merupakan sejenis telaah. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam menyimak konsentratif  ini adalah:
a.       Menyimak untuk mengikuti petunjuk-petunjuk
b.      Merasakan hubungan-hubungan seperti kelas, tempat, kualitas, waktu, urutan serta sebab dan akibat.
c.       Menyimak demi suatu maksud tertentu untuk memperoleh butir-nutir informasi tertentu.
d.      Mencapai serta memperoleh pengertian dan pemahaman melalui penyimakan yang sungguh-sungguh.
e.       Merasakan serta menghayati ide-ide utama seseorag pembicara atau sesuatu kelompok, baik sasaran maupun organissinya.
f.       Menyimak urutan ide-ide.
g.      Mencatat fakta-fakata penting (Anderson, 1972:70, Dawsin [et al]; 163:153).
8.      Menyimak kreatif
Menyimak kreatif atau creative listening mengakibatkan dalam pembentukan atau rekonstruksi seoang anak secara imaginatif, kesenangan-kesenangan akan bunyi, visi atau penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarkan oleh apa-apa yang didengarnya (Dawson, [et al]; 1963:153).
Secara lebih terperinci lagi, dalam menyimak kreatif ini sudah tercakup kegiatan-kegiatan berikut:
a.       Menghubungkan atau mengasosiasikan makna-makna dengan segala jenis pengalaman menyimak.
b.      Membangun atau mengkonstruksikan imaji-imaji visual sementara menyimak.
c.       Menyesuaikan atau mengadaptasikan imaji dengan pikiran imajinatif untuk menciptakan karya-karya atau hasil-hasil baru dalam tulisan, dan pendramaan.
d.      Menyimak untuk mencapai penyelesaian atau pemecahan masalah-masalah serta sekaligus memeriksa dan menguji hasil-hasil pemecahan masalah terssebut (Anderson: 1972:70).
9.      Menyimak penyelidikan
Menyimak penyelidikan atau exploratoty listening adalah sejenis menyimak intensif dengan maksud dan tujuan yang agak lebih sempit, dalam kegiatan menyimak seperti ini si penyimak menyiagakan perhatiannya untuk menemukan:
a.       Hal-hal baru yang menarik
b.      Informasik tambahan mengenai sesuatu topik.
c.       Atau barangkali suatu perguningan atau buah mulut yang menarik.
Dengan mudah dan dengan lega si penyimak pengeluarkan sedikit upaya untuk itu, lantaran penyelidikannya itu secara relatif bersifat insidental, kebetulan, bukan bersifat spesifik, khusus (Dawson [et al]: 1963:153).

10.  Menyimak interogatif
Menyimak interigatif atau interrogative listening adalah sejenis menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan, karena si penyimak harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dalam kegiatan menyimak interogatif ini si penyimak mempersempit serta mengarahkan perhatiannya pada pemerolehan informasi atau bangun mengenai suatau jalur khusus (Dawson [et al]; 1963:53).
11.  Menyimak pasif
Cara yang seolah-olah tidak memerlukan upaya bagi anak-anak dan sejumlah penduduk pribumi mempelahari bahasa-bahasa asing dapat disebut sebagai “menyimak pasif” atau “passive listening”, walaupun pada hakekatnya agak salah untuk membayangkan bahwa otak kita tidak jalan atau bermalas-mals saja. Yang disebut menyimak pasif adalah menyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan teliti, belajar tergesa-gesa,. Otak kita bukan masin aktifnya dalam mendaftarkan bunyi-bunyi bau-bauan, dan rupa-rupa, sekali pun pada saat kita seolah-olah mengarahkan perhatian kita pada sesuatu yang lain, bahkan pada saat kita tidur.
Kalau kita tahun bahwa tanpa upaya sadar pun otak kita dapat berbuat banyak dalam menguasai sesuatu bahasa asing maka kita akan dapat memetik keuntungan dari sumber yang tersembunyi ini. Kita hendaknya memberi otak kita setiap kesempatan untuk bekerja seefisien munkgin. Untuk melakukan hal ini  maka kita perlu mempergunakan teknik-teknik tertentu yang bermanfaat, antara lain:
a.       Berilah otak kesempatan menyimak banyak-banyak
Kita kadang-kadang tercengang menyaksikan oranag tua pribumi yang tidak bersekolah lancar sekali mempergunakan beberapa bahasa asing. Ini dimungkinkan karena mereka hidup langsung di daerah bahasa-bahasa tersebut beberapa lama dia memberi kesempatan yang cukup bagi otak mereka menyimpan bahasa-bahasa itu. Andaikata kita tidak dapat meniru kondisi-kondisi ideal orang-orang pribumi itu, namun dmeikian dapat memanfaatkan program-program radio, rekaman-rekaman sering mendengarkan kuliah-kuliah yang merupakan bahan-bahan yang memuaskan yang dapat dipergunakan oleh otak untuk mengasimilasi, memilih, serta menyimpan data-data penting mengenai bahasa.
b.      Tenang dan santai
Kegelisahan-kegelisahan, sekalipun mengenai belajar bahasa seakan-akan memutuskan upaya-upaya otak kita untuk melakukan tugasnya.
c.       Janganlah memasang rintangan-rintangan bagi bunyi-bunyi
Orang-orang yang bermukin di dekat rel kereta pai yang bising cenderung untuk melindungi diri mereka dengan”tab bunyi” penghalang secara mental, sehingga mereka  tidak mendengar kereta api lewat. Beberapa orang cenderung memasang penghalang-penghalang bunyi bagi bahasa-bahasa asing dan sebagai akibatnya mereka tidak mengasimiliasi bahasa itu sedemikian rupa sehingga hal itu seolah-olah banyak menolong mereka pada suatu tingkat kesadaran. Akan tetapi dalam beberapa contoh orang-orang ini telah diketahui mempergunakan bahasa asing dengan amat lancar, kalau mereka mabuk atau sakit jiwa.
d.      Berikanlah waktu yang cukup bagi otak
Pada akhir minggu kebanyakan orang beranggapan bahwa merek haruslah mulai berbicara sesuatu bahasa asing. Tentu saha tanpa sangsi mereka dapat memakai beberapa ekspresi, tetapi untuk memanfaatkan “passive listening” dengan sebaik-baiknya, maka seseorang haruslah memberi kesempatan bagi otan untuk bekerja beberapa bulan.
e.       Beri kesempatan bagi otak bekerja, semestera kita mengerjakan sesuatu yang lain
Adalah meupakan suatu cara yang baik memasang rekaman dalam sesuatu bahasa sementera kita bercukur, makan, membaca koran sore, ataupun pada saat bermain dengan ank-anak. Kita aakan dapat memberi perhatian yang serius sepanjang waktu; oleh sebab itu berilah kesempatan menyimak bagi oyak secara santai; banyak orang menganggap sepele akan hal itu, tetapi sangat penting dalam belajar bahasa,  terlebih-lebih bahasa asing. Jangan dilupakan bahwa pada saat tidur pun otak kita tetap aktif (Nida: 1957:27-29).
12.  Menyimak selektif
Betapapun efektifnya menyimak pasif, tetapi biasanya tidak dianggap sebagai kegiatan yang memuaskan. Ciri-ciri aktivisme yang khas tidak membiarkan kita untuk berpuas hati mempergunakan teknik atau cara pasif serupa untuk sekalipun  misalnya kita mempunyai kondisi-kondisi ideal untuk berbuat sedemikian rupa. Akan tetapu sebagai tambahan terhadap masalah-masalah psikologis yang dijelmakan oleh aktivisme kita, terdapat dua alasan yang sah mengapa kita perlu memperlengkapi menyimak pasif dengan menyimak selektif.
1)      Kita jarang sekali mendapat kesempatan untuk berpartisipasi secara sempurna dalam suatu kebudayaan asing, dan oleh karena itu hidup kiya yang bersgi ganda itu turut menganggu kapasitas kita untuk menyerap dan
2)      Kebiasaan-kebiasaan ujaran kita kini cenderung membuar kita menginterpretasikan kembali rangsangan-rangsangan akustik yang disampaikan oleh telinga kita kepda otak kita, dan karenanya kita memperoleh suatu impresi yang dinyatakan dengan tidak sebenarnya terhadap bahasa asing.
Menyimak selektif hendaknya tidaklah menggantikan menyimak pasif, tetapi justru memperlengkapinya. Kita harus berupaya untuk memanfaatkan kedua tekni tersebut dan dnegan demikian berarti mengimbangi isolasi kultural kita dari masyarakat bahasa asing itu dan tendensi kita untuk menginterpretasikan kembali semua yang telah kita dengan dengan bantuan bahasa yang telah kita kuasai. Satu-satunya cara yang mungkin membuat kita dapat terbuasa dengan bentuk akustik bahasa ialah mendengarkannya atau menyimaknya secara selektif, pertama sekali pada satu ciri dan kemudian pada yang lainnya. Hanya dengan cara inilah kita dapat berharap mendengar bahasa secawa wajar.




Andaikan kita harus menyimak secara cerdas aceka ragam ciri bahasa, maka kita perlu mengikuti suatu urutan yang akan dapat menolong kita unguk menemukan cara kita sendiri menggarap unsur-unsur yang seolah-olah tidak teratur dan tidak berurutan itu. Beberapa bahasa menuntut adaptasi-adaptasi atau penyesuaian-penyesuaian tertentu terhadap urutan prosedur-prosedur yang disarankan, berikut ini hendaklah disimak secara selektif dalam urutan sebagai berikut ini:
1)      Nada suara
Nada suara, apakah turun atau naik ataupun tetap mendatar jelas merupakan salah satu dari hal-hal pertama yang harus di perhatikan oleh seoranag anak mengenai suatu bahasa yang dipelajari oleh orang dewasa. Seorang anak hampir-hampir tidak dapat dielakkan mempergunakan intonasi yan benar, bahkan pun pada saat mereka meraban dengan konsoan-konsonan dan vowel-vowel yang berubah-ubah atau menyimpang dari aslinya. Tetapi seseorang-orang dewasa seolah-oleh tidak mampu belajar intonasi sesuai bahasa asing. Sebenarnya dia dapat berbicara sesuai bahasa asing  dengan bentuk-bentuk tata bahasa yang sungguh-sungguh tepat dan benar, pemilihan kata-kata yang baik, dan bahkan ucapan konsonan-konsonan serta vokal-vokal yang hampir tidak tercela, tetapi intonasinya yang jelek dan salah biasanya membukakan tabir bahwa cara yang benar-benar dengan tidak sadar mengasimilasikan intonasi bahasa ibunya membuat dia tidak menyadari perbedaan-perbedaan dasar antara bahasa-bahasa namun demikian keadaannya, menyimak selektif terhadap intonasi merupakan langkah pertama yang benar-benar harus dimulai dalam menyimak atau mendengarkan sesuatu bahasa asing.
Banyak orang beranggapan bahwa mereka tidak dapat menyimak pada sesuatu bahasa sampai mereke mengerti kata-kata tetapi sesudah itu kegiatan menyimak terlalu terlambat. Agar dapat mendengar perubahan-perubahan pada nada maka kita.
Kalau kita harus menyimak aneka prangkat bunyi yang bersamaan – baik konsonan maupun vokal – maka kita segera melihat bunyi yang beraneka ragam, sebenarnya terdapat jumlah bunyi distingtif yang amat terbatas – dalam beberapa bahasa hanya kira-kira selusin dan dalam bahasa-bahasa alinnya sekitar 60 buah – tetapi tanpa menghiraukan jumlahnya tetapi tak jauh lebih sedikit daripada yang pertam sekali kita bayangkan.
2)      Kata-kata dan frase-frase
Setiap orang yang menyimak secara seksama pada suatu bahasa asing, akan segera melihat menemukan kombinasi-kombinasi bunyi yang terjadi berulang-ulang.Kalau seseorang mendengar berulang-ulang kali suatu gabungan identik dua atau tiga suku kata, maka ini besar sekali kemungkinan merupakan suatu kata atau akar kata.
Kalau seseorang mendengar berulang-ulang kombinasi-kombinasi yang terdiri atas lima atau enam suku kata, maka agaknya ini merupakan frase-frase. Tetapi apakah kombinasi-kombinasi yang sering muncul serupa itu merupakan kata-kata atau frasa-frase sebenarnya tidaklah terlalu banyak menarik perhatian atau menjadi urusan pelajar bahasa. Anak-anak sudah barang tentu tidak mengetahui perbedaan-perbedaan antara katak-kata dan frase-frase dan juga kita tidak perlu membedakan kesatuan-kesatuan serupa itu tatkala kita mulai berbicara.
Salah satu dari fase-fase yang paling penting dalam menyimak kata-kata secara selektif frase-frase, ataupun kalimat-kalimat adalah mencoba memahami dari konteks apa makna yang di kandungnya, Inilah cara anak-anak belajar, dan kitapun dalam hal ini dapat menirunya dengan baik. Nilai prosedur ini sangat baik.
Menyimak secara selektif terhadap katak-kata biasanya mulai dengan memperhatikan setiap kombinasi bunyi-bunyi yang muncul berulang-ulang, yang seolah-olah “lebih menonjol” dalam aliran atau arus ujaran. Pada mulanya seseorang menyimak secara selektif pada urutan-urutan yang seringkali muncul yang maknanya belum begitu dipahaminya. Sekali makna itu dikethui serta dipahami, maka kita perlu menyimak kombinasi-kombinasi yang serupa itu dalam rekaman-rekaman lain, atau dalam percakapan sehari-hari. Kalau kata-kata ini telah menjadi biasa, kita harus menambahkan kata-kata lain yang baru saja dipelajari. Mendorong jauh-jauh batas-batas pengawasan reseptif (penerimaan) terhadap bahasa itu.
3)      Bentuk-bentuk tata bahasa
Dalam kebanyakan bahasa apa yang kita sebut kata-kata itu tidak selalu muncul dan kelihatan dalam bentik yang sama. Kadang-kadang suatu tambahan dilekatkan pada kata itu, contoh:
Walked         vs         walk
Roses            vs         rose
Bahsa indonesia
Berlari          vs         lari
Melihat         vs         lihat
Makanan      vs         makan
Dalam contoh-contoh lain terdapat sesuatu perubahan di dalam kata itu sendiri, misalnya:
Bahasa inggris:
ran       vs         run
feet       vs         foot
Sedangkan dalam kasus-kasus lain, kita menjumpai bahwa kita harus mempergunakan kata-kata yang amat berbeda, contoh
Bahasa inggris:
Go          vs         went     (bukan go – ed*)
Good      vs         better   (bukan good – er*)
Tetapi, apapun perubahan yang terjadi, kita perlu mengarahkan perhatian padanya, dengan jalan menyimak secara selektif pada perangkat-perangkat modifikasi tersebut.
Apabila kita mempelajari lebih banyak lagi struktur ketate bahasaan sesuatu bahasa, maka hendaknya kita menyimak secara selektif pada setiap tipe ciri ketatabahasaan, seperti: jenis kelamin, waktu, modus, bentuk, susunan kata-kata, frase-frase, klausa-klausa. Setiap dan semua ciri tata bahasa, terutama sekali yang mungkin menimbulkan sesuatu kesukaran pada pelajar, haruslah disimak secara selektif.
Salah satu keuntungan utama menyimak secara selektif pada struktur-struktur tata bahasa ialah bahwa struktur-struktur yang diserap oleh proses ini cenderung membuat “kebiasaan-kebiasaan” dalam otak kita” bahkan setelah kita berhenti menyimak terutama sekali bagi bentuk-bentuk atau susunan-susunan kata-kata seperti itu, otak kita melanjutkan proses pengklasifikasian secara otomatis, segala sesuatu yang kita dengan. Oleh karenanya maka kita tetap meningkatkan serta menambahi pengetahuan kita mengenai bahasa dan fasilitas kita dalam bahasa itu lama setelah kita berhenti mempelajari tata bahasa dengan cara yang formal
(Nida, 1957:30-36).
4)      Kemampuan menyimak siswa Sekolah Dasar
Pada tahun 1949 Tulare Country Schools telah menyusun sebuah buku petunjuk mengenai Ketrampilan Berbahasa yang disebut “Tulare Country Cooperative language Arts Guide” Khusus mengeai keterampilan berbahasa menyimak adalah sebagai berikut  i ni:
Taman kanak-kanak (4 – 6 tahun)
a)      Menyimak pada teman-teman sebaya dalam kelompok-kelompok permainan.
b)      Mengambangkan waktu perhatian yang amat panjang terhadap crita-cerita.
c)      Dapat mengingat petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan yang sederhana.



Kelas Satu (5½ - 7 tahun)
a)      Menyimak untuk menjelaskan atau menjernihkan pemikiran atau untuk mendapatkan jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan.
b)      Dapat mengulangi secara tepat apa-apa yang telah didengarnya.
c)      Menyimak bunyi-bunyi tertentu pada kata-kata dan lingkungan.
Kelas Dua (6½ - 8 tahun)
a)      Menyimak dengan kemampuan memilih yang meningkat
b)      Menurut saran-saran, usul-ususl dan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan untuk mencek pengertiannya
c)      Sadar akan situasi-situasi, bila sebaiknya menyimak, bila pula sebaiknya tidak usah menyimak.
Kelas Tiga dan Empat (7½ - 10 tahun)
a)      Sungguh-sungguh sadar akan nilai menyimak sebagai suatu sumber informasi dan kesenangan
b)      Menyimak pada lapaoran-laporan orang lain, pita-pita rekaman laporan mereka sendiri, dan siaran-siaran radio dengan maksud tertentu serta pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan dengan hal itu.
c)      Memperhatikan keangkuhan dengan kata-kata atau ekspresi-ekspresi yang tidak mereka pahami maknanya.

Kelas Lima dan Enam (9½ - 12 tahun)
a)      Menyimak secara kritis terhadap kekeliruan-kekeliruan kesalahan-kesalahan, propaganda-propaganda, tuntutan-tuntutan yang keliru
b)      Menyimak pada aneka ragam cerita puisi, rima katak-kata, dan memproleh kesenangan dalam memenuhi tipe-tipe baru (Anderson, 1972 : 22-23).
Demikianlah telah diutarakan kemampuan menyimak ank-anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar secara sepintas menurut penelitian para ahli di Amerika Serikat. Walaupun barangkali tidak seluruhnya sesuai dengan para siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar di negeri kita, namun sebagai pedoman pasti ada manfaatnya bagi kita.
Kita tahu bahwa anak yang telah meninggalkan taman kanak-kanak telah dimodali dengan permulaan-permulaan sejumlah ketrampilan. Di antara semua itu tentu terdapat yang erat berkaitan dengan bahasa dan khusus mengenai kemampuan menyimak dapat kita catat sebagai berikut:
a)      Apabila suatu cerita dibaca dengan nyaring
b)      Kalau seoranga pembicara menceritakan suatu perngalaman
c)      Bunyi-bunyi dan nada-nada yang berbeda
d)     Petunjuk-petunjuk
e)      Untuk mendengarkan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan.
f)       Ritmen-ritme
g)      Untuk menangkap ide-ide (Anderson; 1972:20
5)      Hal-hal yang perlu disimak
Khusus mengenai bahasa lebih-lebih bahasa asing, maka pelajar haruslah menyimak serta mengenal, memahami (karena semua itu mengandung makna).
a)      Bunyi-bunyi fonemis bahasa yang bersangutan, dan pada akhirnya variasi-variasi fonem-fonem yang bersifat personal ataupun dialek seperti yang dipakai atau diucapkan oleh beberapa pembicara asli, pendidikan pribumi.
b)      Urutan-urutan bunyi dan pengelompokan-pengelompokannya, panjangnya jeda, pola-pola tekanan dan intonasi.
c)      Katak-kata tugas beserta perubahan-perubahan bunyi sesuai dengan posisinya di muka kata-kata lain (contoh: a boy an animal; the / «/ boy the / i/ apple dan sebagainya dalam bahasa inggirs)
d)     Infeksi-infeksi untuk menunjukkan jamak, waktu milik dan sebagainya.
e)      Perubahan-perubahan bunyi dan pertukaran-pertukaran fungsi yang ditimbulkan oleh derivasi (misalnya: adil, keadilan, pengadilan, mengadili, diadili)
f)       Pengelompokkan-pengelompokkan struktural (misalnya yang berhubungan dengan frase-frase verbal, preposisional).
g)      Petunjuk-petunjuk susunan/urutan kata yang menyangkut fungsi dan makna.
h)      Makna kata-kata tergantung pada konteks atau pada situasi pembicaraan (misalnya, kaki meja, kaki gunung, kaki tangan musuh, tigginya seribu kaki).
i)        Kata-kata salam, kata-kata pendahuluan, dan kata-kata kragu-raguan yang terdapat dalam ujaran.
j)        Makna budaya (cultural meaning) yang tercakup atau tersirat dalam suatu pesan.
Pemahaman atau pengurangan isi sandi sesutu “pesan” atau aliran ujaran akan tergantung pada keterbiasaan atau keakraban pelajar dengan setiap unsur diatas dan pada pendugaannya atas semua itu dalam berbagai situasi, karena dia telah mendengarnya berkali-kali dalam kombinasi-kombinasi yang berbeda-beda dan dalam situasi-situasi yang cocok dan pantas (Finocchiaro and Banomo; 1973:106-107).