Sunday, 11 January 2015

Makalah Infusi Isu-Isu Global

BAB II. PEMBAHASAN    A.     Pengertia Infusi Isu-isu Global Pembelajaran IPS merupaka... thumbnail 1 summary

BAB II.
PEMBAHASAN
   A.    Pengertia Infusi Isu-isu Global

Pembelajaran IPS merupakan pembelajaran yang sangat luas, didalamnya mencakup banyak  bidang kajian ilmu, misalnya Geografi, Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, Tata Negara, dan Sejarah. Hal itu memberikan peluang atau wadah bagi pembelajaran yang berbasis Infusi Isu-isu Global. Untuk lebih memahaminya akan lebih jelas dikupas dalam alenia berikutnya.
1.      Infusi
Infusi merupakan kata yang jarang digunakan dalam bidang pendidikan, Infusi ini lebih sering digunakan dalam bidang kedokteran dan dalam bidang kedokteran infusi sering diartikan dengan penyusupan sel induk dari sumsum tulang belakang ke dalam jantung manusia. Dari pengertian infusi dalam bidang kedokteran inilah kami menyimpulkan bahwasaanya infusi dalam bidang pendidikan adalah penyusupan bidang-bidang kajian yang terdapat diluar dan kemudian dimasukan dalam proses belajar mengajar.

Saturday, 10 January 2015

Makalah Teori Piaget dan Penerapannya dalam Pembelajaran di SD

 Teori Piaget dan Penerapannya BAB II PEMBAHASAN A.     Teori Belajar Piaget Piaget mer... thumbnail 1 summary

 Teori Piaget dan Penerapannya

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Belajar Piaget

Teori Belajar PiagetPiaget merupakan salah satu pioner konstruktivis, ia berpendapat bahwa anak membangun sendiri pengetahuannya dari pengalamannya sendiri dengan lingkungan. Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan  kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator dan buku sebagai pemberi informasi.  Kecenderungan anak anak SD beranjak dari hal-hal yang konkrit, memandang sesuatu kebutuhan secara terpadu. Berdasarkan keceenderungan diatas maka, belajar adalah suatu proses yang aktif, konstruktif, berorientasi pada tujuan, semuannya bergantung pada aktifitas mental peserta didik.

Teori Piaget menguraikan perkembangan kognitif dari bayi sampai dewasa. Dalam pandangan Piaget, struktur kognitif merupakan kelompok ingatanyang tersusun dan saling berhubungan, aksi dan strategi yang dipakai oleh anak-anak untuk memahami dunia sekitarnya. Pada bayi, struktuf kognitif yang dimiliki adalah refleks. Contoh: bayi secara otomatis mengisap benda –  benda yang menyentuh bibirnya. Selain mengisap , menjangkau, menyepak, melihat dan memukul merupakan kegiatan sensorimotor yang terorganisir. Struktur kognitif ini cepat dimodifikasi ketika bayi tumbuh dan berinteraksi dengan dunia. Pada masa anak-anak sudah mulai ada pemahaman dan kegiatan mental. Proses kognitif pada bayi dimulai dengan mempunyai respon mengisap, respon melihat, respon menggapai, respon  memegang yang berfungsi secara terpisah. Lama-lama respon ini diorganisasikan ke dalam sistem yang lebih tinggi, yang merupakan koordinasi dari respon-respon tersebut. Contoh: bayi yang menjangkau botol susu memasukkannya kedalam mulutnya untuk diisap.


B.     Tahapan Perkembangan Kognitif Anak
Untuk memahami teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, ada beberapa konsep yang harus dipahami terlebih dahulu, yaitu:

a.       Inteligensi
Piaget mengartikan intelegensia secara lebih luas dan tidak mendefinisikannya secara ketat. Ia memberikan beberapa definisi yang umum yang lebih mengungkapkan orientasi biologis, seperti: Yang terdapat dalam Suparno (2001) :Intelegensi adalah suatu contoh khusus adaptasi biologis……(Origin of Intelligence). Intelegensi adalah suatu bentuk ekuilibrium kearah mana semua struktur yang menghasilkan persepsi, kebiasaan, dan mekanisme sensori diarahkan… (Piaget, 1981)
Secara progressif, dapat dikatakan bahwa :Inteligensi membentuk keadaan ekuilibrium kearah mana semua adaptasi sifat-sifat sensorimotor dan kognitif dan juga interaksi-interaksi asimilasi dan akomodasi antara organisme dan lingkungan mengacu (Piaget,1981).

b.      Organisasi
Menunjuk pada tendensi semua spesies untuk mengadakan sistematisasi dan mengorganisasi proses-proses mereka dalam sustu system yang koheren, baik secara fisis maupun psikologis (Suparno: 2003). Contoh : bayi menggabungkan kemampuan melihat dan menjamah.

c.       Skema 
Schema is Piaget’s term for cognitive unit that coordinates related actions and perceptions (Peterson, 1996). Skema adalah struktur mental seseorang dimana ia secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema itu akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan kognitif seseorang. Skema bukanlah benda yang nyata yang dapat dilihat, melainkan suatu rangkaian proses dalam system kesadaran seseorang. Skema tidak mempunyai bentuk fisik dan tidak dapat dilihat. (Wadsworth,1989 dalam Suparno).

d.      Asimilasi
Assimilation is Piaget’term for the incorporation of new information into an existing mental category or schema(Peterson,1996). asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi,konsep atau pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada di dalam fikirannya. Menurut Wadsworth dalam Suparno, asimilasi tidak menyebabkan perubahan skemata, tetapi memperkembangkan skema semata.

e.       Akomodasi
Accomodation is Piaget’term for alteration of a thought process, or schema, to incorporate new information (Peterson,1996). Akomodasi adalah pembentukan skema baru atau mengubah skema yang lama, hal ini terjadi karena dalam menghadapi rangsangan/pengalaman baru, seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru itu dengan skema yang telah ia miliki, hal ini terjadi karena pengalaman baru itu tidak cocok dengan skema yang telah ada.

f.       Ekuilibrasi
Equilibration is the act of achieving equilibrium. Equilibrium is a state of harmony or stability. In Piaget’s theory, relative (or temporary) equilibrium occurs whenever assimilation and accommodation are in balance with one another (Peterson,1996). Ekuilibrasi (imbang) adalah tindakan untuk mencapai keseimbangan. Equilibrium adalah keadaan harmoni atau stabilitas. Dalam teori Piaget, relatif (atau sementara) ekuilibrium terjadi setiap kali asimilasi dan akomodasi berada dalam keseimbangan dengan satu sama lain (Peterson, 1996).

g.       Adaptasi
Adaptation in Piaget’s theory consist of an interplay between the processes of assimilation and accommodation (Peterson,1996). Adaptasi dalam teori Piaget terdiri dari interaksi antara proses asimilasi dan akomodasi (Peterson, 1996). Secara garis besar, Piaget mengelompokkan tahap-tahap perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap secara berurutan. Setiap tahapan ditandai dengan tingkah laku tertentu serta jalan pikiran dan pemecahan masalah tertentu pula. Tahap pertama disebut sebagai sensory-motor, untuk anak yang barulahir kira-kira anak berusia 18 bulan sampai dua tahun. Tahap per-operasional. Untuk anak yang berusia dari dua tahun hingga tujuh tahun. Operasional yang terbagi menjadi tahap konkret operasional berawal dari anak usia 7 tahun dan formal operasional yang berawal dari anak berusia 11 tahun.

Tahap Perkembangan Anak Berdasarkan Teori Piaget

Teori Belajar Piaget


1.      Tahap Sensori Motor
Salah satu ciri khusus anak pada usia ini adalah penguasaan, yang Piaget sebut sebagai konsep objek, suatu pengertian bahwa benda atau objek itu ada dan merupakan kekhasan dari benda tersebut, dan akan tetap ada walaupun benda tersebut tidak tampak atau tidak dapat di pegang/ diraba ole anak. Selain ciri di atas, tidak ada bahasa pada awal tahapan ini tetapi ada permulaan simbolisasi. Piaget beranggapan bahwa representasi internal dari benda atau kejadian dihasilkan melalui imitasi.
Ada tiga kemampuan penting yang dicapai anak pada mmasa sensori motor ini yaitu:

1)  Kemampuan mengontrol secara internal,yaitu terbentuknya kontrol dari dalam pikirannya terhadap dunia nyata. Dengan kata lain, sampai dengan usia dua tahun anak mengalami pergantian persepsi dari motor murni ke arah gambaran yang berupa simbol (lambang).
2)  Perkembangan konsep kenyataan. Pada akhir tahap ini anak akan menyadari bahwa dunia ini ada dan tetap ada, sehingga anak akan mengetahui bahwa benda itu ada.
3)   Perkembangan pengertian beberapa sebab dan akibat.

2.      Tahap Pre-operasional
Dilihat dari segi perkembangan bahasa, tahapan ini merupakan tahapan yang amat menakjubkan. Dimulai dari anak yang baru bisa mengatakan satu dua patah kata sehingga menjadi anak yang dapat menyusun suatu kalimat. Anak tidak akan memiliki kemampuan berfikir yang operasional sampai anak mencapai usia tujuh tahun dan kadang-kadang di sebut dengan tahapan intuisi. Selain itu anak usia ini masih berfikir animisme mereka masih menganggap beberapa benda tak hidup sebagai benda hidup. Sebagai conntohnya mereka sering mengatakan bahwa matahari sebagai benda hidup karena dia bergerak. 

Pada tahapan ini anak dibekali oleh beberapa pengamatan mereka tertipu oleh penampakan segumpal tanah liat yang pertama kali dibentuk menjadi bola dan diubah menjadi lempengan. Mereka belum mengetahui walaupun bentuknya berbeda namun substansi atau materinya sama. Piaget menamakannya sebagai konservasi substansi (materi). Pada usia ini anak belum mengerti bahwa bejana yang pendek dan lebar memiliki lebih banyak cairan dibanding dengan sebuah botol kecil dan tinggi. Piaget menyebutkan hal ini sebagai konservasi volume cairan. 

Anak juga belum mengerti bahwa kalau benda ditebarkan ke daerah yang luas, jumlah benda tersebut tidak bertambah. Piaget menyebutnya sebagai konservasi jumlah permainan.Keterbatasan lain anak pada usia ini adalah belum bisa membuat urutan berseri, dan anak berfikir satu-satu secara berpasangan. Keterbatasan konsep tersebut diatas membatasi anak pada tahapan ini dari pengertian-pengertian bentuk, ukuran, waktu, dan jumlah.

3.      Tahapan Konkret Operasional
Tahapan ini berawal ada anak usia 6/ 7 tahun ddan berakhir pada usia 11 tahun. Pada tahap ini pula telah terjadi perubahan-perubahan walaupun masih ada juga keterbatasannya. Perubahan yang sangat mendasar adalah perubahan dari pemikiran yang kurang logis ke pemikiran yang lebih logis. Operasi yang mendasari pemikirannya berdasarkan pada yang konkret atau nyata: dapat dilihat, diraba, atau dirasa, atau dirasa, dari suatu benda atau kejadian, sehingga tahapan ini disebut sebagai tahapan ini disebut sebagai tahap konkret operasional. Anak pada usia ini telah menyadari bahwa jumlah atau volume suatu benda tidak akan berubah apabila tidak terjadi penambahan maupun pengukuran, selain perubahan-perubahan bentuk atau perubahan ketentuan (aturan).

Kemampuan lain yang telah dimiliki oleh anak usia ini adalah kemampuannya untuk menyadari tentang reversibel (hal yang dapat dibalik) dan identitas. Revensibilitas dicirikan bahwa setiap operasi ada satu operasi lain yang sebaliknnya. Contoh operasi penambahan dapat diputar balikkan dengan pengoprasian pengurangan; 3 + 4 = 7 atau 7- 3 = 4. Sedangkan identitas maksudnya adalah setiap operasi lain yang tidak berubah. Contoh; identitas operasi penambahan adalah 0, sehingga 2 + 0 + 0 + 0= 2, dan identitas perkalian adalah 1, sehingga 2 × 1= 2. Selain perkembangan yang telah dipaparkan diatas masih ada keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki anak pada masa ini, antara lain kenyataan bahwa perbuatan ataupun percobaan yang dilakukan anak pada usia ini masih bersifat coba-coba, percobaan-percobaan tersebut masih jarang yang berhubungan antara yang satu dengan yang lain.

4.      Tahap Formal Operasional
Anak usia sekitar sebelas tahun memasuki tahap formal operasional. Tahap ini berakhir pada usia 14/ 15 tahun sebelum memasuki masa dewasa. Tahap ini dikatakan sebagai tahap akhir dari perkembangan struktur berfikit Anak usia ini telah dapat secara penuh melakukan operasi secara logis tetapi masih mempunyai pengalaman yang terbatas.

Skema Empat Tahap Perkembangan Kognitif Teori Piaget
Tahap
Umur
Ciri Pokok Perkembangan
Sensorimotor
0-2 tahun
* Berdasarkan tindakan
* Langkah demi langkah
Praoperasional
2-7 tahun
* Penggunaan symbol/bahasa tanda
* Konsep intuitif
Operasional Konkret
8-11 tahun
* Pakai aturan jelas/logis
* Reversibel dan kekekalan
Operasi Formal
11 tahun ke atas
* Hipotesis
* Abstrak
* Deduktif dan induktif
* Logis dan probabilitas
                                                        Sumber : Suparno,2003     

C.    Penerapan Teori Piaget dalam Pembelajaran IPA di SD

Teori Piaget ini banyak dipakai dalam penentuan proses pembelajaran di kelas SD terutama pembelajaran IPA. Berdasarkan teori di atas, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan pembelajaran di kelas antara lain: bahwa Piaget beranggapan anak bukan merupakan suatu botol kosong yang siapun untuk diisi, melainkan anak secara aktif akan membangun pengetahuan dunianya. Suatu hal lagi, teori Piaget mengajarkan kita pada suatu kenyataan bahwa seluruh anak mengikuti pola perkembangan yang sama tanpa mempertimbangkan kebudayaan dan kemampuan anak secara umum. Hanya umur anak di mana konservasi muncul sering berbeda. Poin yang penting ini menjelaskan kita mengapa pembelajaran IPA di SD banyak menggunakan percobaan-percobaan nyata dan berhasil pada anak yang lemah dan anak yang secara kebudayaan terhalangi.

Penerapan selanjutnya adalah guru  harus selalu ingat bahwa anak menangkapdan menerjemahkan sesuatu secara berbeda. Sehingga walaupun anak mempunyai umur yang sama tetapi ada kemungkinan mereka mempunyai pengertian yang berbeda terhadap suatu benda atau kejadian yang sama. Jadi setiap individu anak adalah unik (khas). Implikasilainnya yang perlu diperhatikan, apabila hanya kegiatan fisik yang diterima anak, tidak cukup untuk menjamin perkembangan intelektual anak yang bersangkutan. Ide- ide anak harus selalu dipakai. 

Piaget memberikan contoh sementara beliau menerima seluruh ide anak, beliau juga mempersiapkan pilihan-pilihan yang dapat dipertimbangkan oleh anak. Sehingga apabila ada seorang anak yang mengatakan bahwa air yang ada di luar gelas berisi es berasal dari lubang-lubang kecil yang ada pada gelas maka guru harus menjawab pernyataan itu dengan “bagus”. Tetapi setelah beberapa saat guru harus mengarahkan sesuai dengan apa yang seharusnya bahwa sebenarnya air yang ada di permukaan luar gelas bukan berasal dari lubang-lubang kecil pada gelas, melainkan berasal dari uap air di udara yang mengembun pada permukaan gelas yang dingin. Jadi guru harus selalu secara tidak langsung memberikan idenya tetapi tidak memaksakan kehendaknya. Dengan demikian anak akan menyadari bagaimana anak tersebut bisa mendapatkan idenya. 
 
Dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk menilai sumber ide-idenya akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menilai proses pemecahan masalah. Hal ini juga perlu dilakukan di dalam kelas. Sebagai contoh, apabila kelas telah menyelesaikan suatu masalah, sebaiknya guru menanyakan kembali kepada siswa tentang cara mendapatkan jawaban tersebut. Misalnya dengan “Bagaimana kita bisa samapai pada jawaban ini?” dan membantu kelas untuk mengulas kembali tahapan-tahapan yang dilalui hingga menemukan jawaban atau kesimpulan itu. Dengandemikian guru lebih membantu anak dalam proses perkembangan intelektualnya. Dari pembahasan di atas, terlihat bahwa proses pembelajaran di kelas menurut Piaget harus meletakkan anak sebagai faktor yang utama. Hal ini sering disebut sebagai pembelajaran yang berpusat pada anak (child center).

D. Contoh Pembelajaran IPA di SD Berdasarkan Teori Piaget

Seperti telah dikatakan di atas bahwa pembelajaran berlandaskan teori Piaget harus mempertimbangkan keadaan tiap siswa (dikatakan sebagai terpusat pada siswa) dan siswa diberikan banyak kesempatan untuk mendpatkan pengalaman dari penggunaan inderanya. Berikut akan disampaikan rancangan pembelajaran secara garis besar. 

Konsep yang diajarkan  :Udara mempunyai sifat-sifat tertentu dan banyak kegunaannya bagi kehidupan manusia.
Sub Konsep : Udara yang bergerak mempunyai tekanan yang lebih rendah daripada udara diam.
Metode yang dipakai  :  Eksperimen
Alat dan bahan yang digunakan :
1.      Dua bola pingpong (tenismeja)
2.      Benang
3.      Kayu, kira-kira 30 cm
Cara kerja :
1.      Ikatlah kedua bola pingpong dengan benang yang ada.
2.      Ikatkan kedua ujung benang secara berdekatan pada kayu yang telah disediakan, sehingga tampak seperti gambar berikut.
3.      Peganglah salah satu ujung kayu dan tiuplah kuat-kuat persis di tengah-tengah antara kedua bola pingpong yang tergantung.
4.      Amati apa yang terjadi.
Kegiatan guru yang penting adalah memperhatikan pada setiap siswa apa yang mereka lakukan. Apakah mereka sudah melaksanakannya dengan benar. Apakah mereka tidak mendapatkan kesulitan? Dan guru harus berbuat apa yang Piaget perbuat yaitu memberikan kesempatan anak untuk menemukan sendiri jawabannya, sedangkan guru harus selalu siap dengan alternatif jawaban bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Pada akhir pembelajaran tentunya guru mengulas kembali bagaimana siswa dapat menemukan jawaban yang diinginkan.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.  Teori Piaget menguraikan perkembangan kognitif dari bayi sampai dewasa.
2. Secara garis besar, Piaget mengelompokkan tahap-tahap perkembangan kognitif anak menjadi empat yaitu : tahap sensory-motor, tahap per-operasional, tahap Operasional dan tahap formal operasional.
3.  Penerepan teori Piaget dalam pembelajaran IPA SD yaitu :
Dengan beranggapan anak bukan merupakan suatu botol kosong yang siapun untuk diisi, melainkan anak secara aktif akan membangun pengetahuan dunianya. Penerapan selanjutnya adalah guru  harus selalu ingat bahwa anak menangkap dan menerjemahkan sesuatu secara berbeda. Ide- ide anak harus selalu dipakai. Tetapi setelah beberapa saat guru harus mengarahkan sesuai dengan apa yang seharusnya.
4. Contoh pembelajaran IPA di SD berdasarkan teori Piaget yaitu melelui eksperimen yang melibatkan siswa.

B.     Saran
1. Sebagai seorang guru hendaknya memiliki dasar keterampilan yang mumpuni, seperti keterampilan agar dapat menguasai situasi kelas.
2. Hendaknya seorang guru yang baik harus memahami karakteristik dari masing-masing peserta didiknya.
3. Seorang guru yang baik harus mampu memilih dan menggunakan metode dan media yang tepat sesuai karakter peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA

Isti Rokhiyah. 1999. Pendidikan IPA di SD. Jakarta: UT PGSD 2302 MODUL 3
Widodo, A. Dkk. 2008. Pendidikan IPA di SD. Bandung : UPI Press